Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah dalam Al-Hujajul
Qawiyyah ‘ala anna Wasa’il Ad-Da’wah Tauqifiyyah menuturkan bahwa dakwah
(mengajak manusia) ke jalan Allah Subhanahu wata’ala adalah ibadah yang
agung. Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan hal ini. Mendorong
setiap muslim untuk terjun dalam kancah dakwah. Allah Subhanahu wata’ala
menjadikan para pegiat dakwah sebagai sebaik-baik manusia dalam
perkataannya. Mengangkat amalan mereka pada derajat utama.
Allah
Subhanahu wata’ala berfirman:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:
‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’?” (Fushshilat: 33)
Ini mengandung pengertian, bahwa tak ada seorang pun yang paling baik
perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) ke jalan Allah
Subhanahu wata’ala, beramal dengan apa yang didakwahkannya. Dia
menjelaskan secara gamblang tentang dakwah yang diembannya tanpa malu,
jenuh, berat, dan malas. Bahkan dia katakan: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Seseorang tidak akan merasa tertipu dengan menduduki status sebagai
da’i (orang yang menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala).
Sebab, dirinya termasuk orang yang mewarisi tugas para nabi, yaitu
mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wata’ala yang diwahyukan kepada Penutup dan Imam para
nabi:
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha
Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)
Ayat ini menjadi dalil, sesungguhnya para pengikut Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah du’at (para penyeru) ke jalan Allah
Subhanahu wata’ala. Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa
Allah berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam: Dia
memerintahkannya agar mengabarkan kepada segenap manusia bahwa jalan
ini, yaitu thariqah dan sunnahnya, adalah mendakwahkan kepada kesaksian
“Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah saja tiada sekutu
bagi-Nya,” menyeru ke jalan Allah Subhanahu wata’ala dengan materi
dakwah tersebut berdasar bashirah (hujjah), keyakinan, dan burhan
(penjelasan). Dia dan segenap orang yang mengikutinya mendakwahkan
kepada apa yang telah didakwahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam atas dasar bashirah, yakin, burhan (bukti), akal, dan syariat.
(Tafsir Ibnu Katsir, 2/496)
Allah Subhanahu wata’ala telah memberi jawaban bahwa selalu akan ada
pada umat ini sekelompok manusia yang menyeru ke jalan Allah Subhanahu
wata’ala. Kelompok tersebut membimbing manusia kepada kebaikan,
memerintahkan mereka dengan kebaikan tersebut, memperingatkan segenap
manusia dari keburukan dan mencegah mereka untuk melakukan keburukan
tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)
Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)
Bersandar pada ayat di atas, para ulama rahimahumullah menjelaskan
bahwa berdakwah, mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala
dihukumi fardhu kifayah. Wajib atas sekelompok dari kalangan kaum
muslimin untuk menegakkannya di setiap zaman dan tempat. Jika tidak ada
yang menegakkannya sama sekali, maka mereka semua berdosa. (Majmu’
Al-Fatawa, 15/165)
Allah Subhanahu wata’ala sungguh telah menyediakan pahala yang besar
dan balasan nan melimpah bagi siapa yang menegakkan perkara dakwah ini.
Dalam Ash-Shahihain, dari hadits Sahl bin Sa’d z, sungguh Nabi n
berbicara kepada Ali bin Abi Thalib z:
وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang
lantaran engkau, itu lebih baik bagimu daripada (engkau mendapat) unta
merah.”
Unta merah adalah sebaik-baik harta di kalangan orang Arab waktu itu.
Dalam Shahih Muslim (no. 2674) dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ
تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى
ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ
يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala
sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala
mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada
kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa
mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun.”
Juga disebutkan dalam Shahih Muslim, hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari z, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.”
Demikianlah Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah
mengungkapkan keutamaan dakwah, mengajak manusia untuk senantiasa berada
di atas jalan Allah Subhanahu wata’ala. Berada dalam ketaatan
kepada-Nya, meninggalkan segala perkara yang dilarang-Nya. Dakwah adalah
ibadah. Karenanya, dakwah dengan sarana-sarana yang mengantarkan kepada
tujuannya adalah bersifat tauqifiyah (sebuah ketetapan yang diatur
syariat). Bukan perkara yang semua orang bebas melontarkan pemikiran dan
pendapatnya hanya lantaran dia melihat sesuatu yang dia anggap sebagai
maslahat padanya. Islam tak semata mengarah kepada tujuan, namun Islam
mengatur pula bagaimana (atau dengan cara apa) sebuah tujuan itu harus
dicapai. Untuk menggapai tujuan, Islam melarang menghalalkan segala
cara.
Menurut Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas, tujuan menghalalkan segala cara (الْغَايَةُ تُبَرِّرُ الْوَسِيلَةَ) merupakan kaidah pemahaman Yahudi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya):
‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan
kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang
dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin)
kembali (kepada kekafiran)’.” (Ali ‘Imran: 72)
Contoh kasus penerapan kaidah Yahudi ini yaitu diperbolehkan
seseorang memasuki gelanggang (menjadi anggota) “parlemen kafir” dengan
tujuan berdakwah (mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala,
memperbaiki masyarakat dan negara). Sama halnya dengan menjadikan tarian
dan nyanyian sebagai wasilah (perantara atau alat) dakwah di jalan
Allah Subhanahu wata’ala. Ini merupakan bentuk-bentuk aplikasi dari
kaidah “tujuan menghalalkan segala cara.” (Lihat Al-Hujajul Qawiyyah,
hal. 44-45)
Hal yang sama dinyatakan pula oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah
Al-Imam hafizhahullah, bahwa pemilu adalah wasilah (sarana) yang
diharamkan. Wasilah ini, katanya lebih lanjut, adalah wasilah yang haram
bila didalami dan dikaitkan dengan satu kaidah yang disebut:
الْغَايَةُ تُبَرِّرُ الْوَسِيْلَةَ
“Tujuan menghalalkan semua cara.”
Kaidah tersebut merupakan kaidah Zionis Yahudi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya):
‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan
kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang
dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin)
kembali (kepada kekafiran)’.” (Ali ‘Imran: 72)
Kata beliau hafizhahullah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
telah mengharamkan membangun kuburan (mendirikan bangunan di atas
kuburan), karena hal itu bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik.
Begitu pula halnya, Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan mendekati
kemaksiatan karena hal itu bisa mengantarkan seseorang terjatuh padanya.
Juga, Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan mencela sesembahan
orang-orang musyrik karena perbuatan itu bakal memancing mereka
melakukan celaan terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya:
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah
selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui
batas tanpa pengetahuan.” (Al-An’am: 108) [Lihat Tanwir Azh-Zhulumat,
hal. 65-66)
Maka, sungguh hal yang aneh dan ganjil bila ada fatwa yang
mengharamkan golput (tidak mengikuti pemilu). “Wajib bagi bangsa
Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada, namun tidak
dipilih menjadi haram,” ujar Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat saat
menjelaskan hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di Padangpanjang, Sumbar.
Bagaimana mungkin memunculkan pemimpin dilakukan dengan cara-cara yang
haram? Bukankah berpartai dan pemilu merupakan rangkaian dari sebuah
sistem demokrasi1? Bukankah berpartai dan pemilu merupakan wasilah yang
diharamkan? Ini sama dengan orang bersuci tapi menggunakan air najis.
Demikian pula dengan pemikiran yang mengusung pemahaman bahwa partai
merupakan sarana atau “kendaraan” menyampaikan dakwah. Dari pemahaman
ini mencuatlah istilah “Partai Dakwah.” Maknanya, partai politik yang
mengemban amanat dakwah dan menyalurkan aspirasi politik kaum muslimin.
Fakta di lapangan, masyarakat yang bersifat heterogen tentu tidak
akan mau menerima kehadiran kader partai yang menyampaikan dakwah,
menyitir ayat Al-Qur’an dan hadits, yang menggiring masyarakat untuk
mendukung partainya. Fakta di lapangan, banyak masjid menolak kehadiran
mubaligh yang berceramah mengarahkan pendengarnya untuk memilih partai
tertentu. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat menghendaki dakwah
yang murni. Dakwah yang mengajarkan pemahaman agama yang lurus dam
benar. Bukan dakwah yang diwarnai oleh kepentingan-kepentingan partai,
meskipun partai tersebut mengusung diri sebagai “partai dakwah” yang
memimpikan keadilan dan kesejahteraan.
Pemikiran yang menjadikan partai sebagai alat dakwah, perjuangan
menegakkan syariat Islam, tak cuma di Indonesia. Di Mesir, melalui
gerakan Ikhwanul Muslimin, tujuan meperjuangkan Islam melalui jalur
politik hingga kini tiada membuahkan hasil. Di Pakistan dengan Jamaat
Islami, juga tak bisa meraih suara seperti yang diharapkan. Di Sudan, di
bawah pimpinan Hasan At-Turabi, berhasil memenangkan pemilu. Akan
tetapi, dakwah melalui jalur politik justru malah membuahkan wakil
presiden dari kalangan Nasrani. Tak hanya itu, Hasan At-Turabi pun
melegalkan pemurtadan (lihat Asy Syariah no. 16/II/1426H/2005).
Di Yaman, Abdulmajid Az-Zindani menjadi salah satu mesin penggerak
demokrasi. Melalui media yang ada, dia menyerukan kaum muslimah untuk
terjun dalam dunia politik. Meski untuk hal itu terjadi banyak
pelanggaran syariat. (Lihat Tuhfatul Mujib ‘ala As’ilatil Hadhiri wal
Gharib, Bab Az-Zindani wa Majlis Asy-Syaikhat bil Yaman, hal. 417, karya
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t)
Di Aljazair malah lebih menyedihkan. Pemilu yang telah dimenangkan
partai Islam berakhir dengan tragedi berdarah. Kaum muslimin dihantui
ketakutan. Dakwah pun selalu dicurigai bahkan dihalangi pihak penguasa.
Demikianlah bila kaum muslimin menjadikan sistem demokrasi sebagai
panglima. Alih-alih bakal memberi kebaikan, ternyata memberi mudarat
yang luar biasa kepada kaum muslimin. Banyak yang mengira sistem
demokrasi bisa memberikan kebaikan bagi kaum muslimin. Senyatanya,
justru meruntuhkan nilai-nilai Islam. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman:
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik
pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama
dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap
mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Fathir: 8)
Kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t, “Apakah makna demokrasi?
Demokrasi bermakna rakyat menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri.
Seandainya (melalui pemungutan suara) menghasilkan suara (terbanyak)
bahwa homoseksual itu halal, niscaya hasil suara tersebut akan
didahulukan daripada Al-Kitab dan As-Sunnah.” (Tuhfatul Mujib, hal. 431)
Sungguh naif sekali jika untuk menentukan kebenaran, halal-haram,
baik-jelek, dengan cara pengumpulan suara. Padahal Allah Subhanahu
wata’ala telah berfirman:
“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa
yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.
Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah
kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya
kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliah
yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada
(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma’idah: 49-50)
Sebagian mereka berpendapat, jika mereka menguasai perolehan suara
dan berhasil meraih kursi mayoritas di DPR atau berhasil merebut kursi
kepemimpinan negara dalam pemilu, niscaya akan bisa ditegakkan syariat
Islam. Benarkah?
Para nabi Allah Subhanahu wata’ala berdakwah menyeru umat manusia
agar menetapi tauhid yang lurus. Inilah tugas para nabi. Allah Subhanahu
wata’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu’.”
(An-Nahl: 36)
Para nabi Allah Subhanahu wata’ala, seperti Nuh, Hud, Shalih, dan
Syu’aib r menyeru kaumnya masing-masing dengan ajakan yang sama:
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada ilah bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Saya telah diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka
melakukan kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali
hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 33 dari Abdullah bin Umar)
Itulah inti dakwah para nabi Allah Subhanahu wata’ala. Karena dakwah
tauhid ini pula mereka menghadapi tribulasi (berbagai cobaan) dakwah,
saat mengajak dan menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala.
Permusuhan orang-orang kafir di zamannya bukan karena para nabi Allah
Subhanahu wata’ala tersebut merebut kekuasaan. Bukan pula lantaran
hendak mengatur pemerintahan. Tapi, permusuhan orang-orang kafir itu
disebabkan dakwah tauhid.
Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditawari
kekayaan, dibujuk untuk ditempatkan menjadi orang mulia di kalangan
Quraisy, dan ditawari kekuasaan. Namun, semua bentuk tawaran dari utusan
orang-orang Quraisy tersebut beliau tolak. (Lihat As-Sirah
An-Nabawiyyah, 1/206-208, karya Ibnu Hisyam)
Ada sebuah pertanyaan penting untuk dijawab: Mengapa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam menolak tawaran kekuasaan tersebut? Tak
lain karena beliau n tahu –tentunya di bawah bimbingan wahyu– bahwa
tawaran tersebut mengandung berbagai konsekuensi yang bertentangan
dengan syariat Allah Subhanahu wata’ala. Sistem kekuasaan yang
ditawarkan oleh orang-orang Quraisy tersebut akan menyeret beliau n dan
orang-orang mukminin yang bersamanya ke dalam berbagai pelanggaran
terhadap hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala.
Dakwah yang beliau n sampaikan bukan bertujuan meraup keduniaan.
Bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan. Bukan guna menjadi orang yang
paling berkuasa, dan dengan kekuasaan itu beliau lalu bisa mengatur
orang-orang Quraisy. Bukan. Bukan demikian tujuan dakwah yang beliau
emban. Tapi benar-benar dalam rangka mengentaskan umat manusia dari
lumpur kesyirikan, menuju kemurnian tauhid.
Maka, jika menghendaki tegaknya syariat Islam bukan dengan cara
menceburkan diri dalam kubangan lumpur demokrasi. Karena, kemuliaan
dakwah nan hakiki tak akan bisa diusung oleh budak-budak demokrasi.
Kemuliaan Islam hanya bisa diraih dengan meneladani generasi terdahulu
dari umat ini, yaitu generasi salaf. Seperti diungkapkan Al-Imam Malik
bin Anas t:
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Tidak akan baik
(generasi) akhir umat ini kecuali apa (cara/sistem yang) dengannya telah
menjadikan baik (generasi) awal umat ini.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan bahwa
kehinaan bisa menerpa umatnya manakala agama tidak dijadikan rujukan.
Kehinaan itu akan terus-menerus ada hingga mereka mau kembali
mengamalkan nilai-nilai Islam. Hadits Ibnu Umar c mengungkapkan pesan
tersebut. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ
وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ
عَلَيْكُمْ ذُلًّا لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى
دِيْنِكُمْ
“Apabila kalian telah disibukkan dengan jual beli riba, kalian
mengambil ekor-ekor sapi, dan senang dengan pertanian, serta
meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada
kalian. Tak akan dicabut kehinaan tersebut dari kalian hingga kalian
kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462, dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 11)
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Sebaliknya, manakala kaum muslimin berpegang teguh dengan syariat
Allah Subhanahu wata’ala, senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan
kepada-Nya, Allah Subhanahu wata’ala akan menurunkan berkah-Nya.
Firman-Nya:
“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami
limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)2
Jalan keselamatan adalah mengikuti apa yang telah dicontohkan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan dengan cara mengambil
pemikiran-pemikiran yang menyelisihi Sunnah Rasul-Nya n. Kata Al-Imam
Az-Zuhri t:
الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ
“Berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah keselamatan.”
Wallahu a’lam.
Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin
Sumber : http://asysyariah.com/partai-islam-partai-dakwah.html
Sumber : http://asysyariah.com/partai-islam-partai-dakwah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar