Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Definisi Diyat
Diyat adalah harta yang wajib dikeluarkan karena tindakan pidana dan diberikan kepada korban atau keluarganya. Diyat tersebut terdapat pada tindak pidana yang mengharuskan qishash di dalamnya, juga pada tindak pidana yang tidak terdapat qishash di dalamnya.
Diyat adalah harta yang wajib dikeluarkan karena tindakan pidana dan diberikan kepada korban atau keluarganya. Diyat tersebut terdapat pada tindak pidana yang mengharuskan qishash di dalamnya, juga pada tindak pidana yang tidak terdapat qishash di dalamnya.
Denda juga disebut اَلْعَقْلُ , yaitu ikatan. Hal ini disebabkan
karena ketika pelaku telah membunuh korban, pelaku harus mem-bayar diyat
dengan sejumlah unta yang diikat di halaman wali korban.
Dikatakan عَقَلْتُ عَنْ فُلاَنٍ(aku terikat dengan si fulan), apabila ia masih berhutang denda tindak pidana padanya.
Yang mendasari semua itu adalah firman Allah Ta’ala:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن
قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ
مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن
قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ
وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ
مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ فَمَن
لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللَّهِ
ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan tidaklah layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang
lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) dan barangsiapa membunuh
seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang
hamba sahaya yang beriman serta membayar dia yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh)
bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia
mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hambasahaya yang
mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian
(damai) antara mereka denganmu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar
diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta
memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak
memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan
berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [An-Nisaa’: 92]
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhum
bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memutuskan
bahwa barangsiapa tidak sengaja membunuh, maka diyatnya adalah 100 ekor
unta dengan perincian 30 ekor unta betina yang induknya sedang bunting,
30 ekor unta betina yang induknya sedang menyusui, 30 ekor unta betina
yang induknya sedang bunting, 30 ekor hiqqah, dan 10 unta jantan yang
induknya sedang menyusui. [1]
Dan masih darinya Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada zaman
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nilai diyat sebesar 800 dinar
atau 8000 dirham, dan diyat ahli Kitab adalah separuh dari diyat seorang
muslim.” Dia melanjutkan, “Keadaan seperti itu berlanjut hingga ‘Umar
Radhiyallahu ‘anhu menjabat sebagai khalifah, lalu ia berdiri dan
berkhutbah, ‘Ketahuilah, sekarang harga unta telah mahal.’ Kemudian
beliau menetapkan diyat atas pemilik emas sebesar 1000 dinar, pemilik
perak sebesar 12000, pemilik sapi sebanyak 200 ekor, pemilik kambing
sebanyak 2000 ekor dan pemilik pakaian [2] sebanyak 200 pasang.” Dia
berkata, “Mengenai diyat untuk orang kafir yang dilindungi, ia
Radhiyallahu ‘anhu tidak menaikkannya sebagaimana yang lain.” [3]
Macam-Macam Diyat
Diyat terbagi atas diyat berat dan diyat ringan. Denda ringan dibebankan pada pembunuhan yang tidak disengaja. Sedangkan diyat yang berat dibebankan pada pembunuhan yang seperti disengaja. Adapun denda pembunuhan yang disengaja, apabila keluarga korban memaafkannya, maka itu adalah termasuk kewenangan mereka untuk menentukan yang terbaik, sebagaimana telah disebutkan di atas dari hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhum secara marfu’:
Diyat terbagi atas diyat berat dan diyat ringan. Denda ringan dibebankan pada pembunuhan yang tidak disengaja. Sedangkan diyat yang berat dibebankan pada pembunuhan yang seperti disengaja. Adapun denda pembunuhan yang disengaja, apabila keluarga korban memaafkannya, maka itu adalah termasuk kewenangan mereka untuk menentukan yang terbaik, sebagaimana telah disebutkan di atas dari hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhum secara marfu’:
مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا دُفِعَ إِلَى أَوْلِيَاءِ
الْمَقْتُولِ فَإِنْ شَاءُوْا قَتَلُوْا وَإِنْ شَاءُوْا أَخَذُوا
الدِّيَةَ وَهِيَ ثَلاَثُوْنَ حِقَّةً وَثَلاَثُوْنَ جَذَعَةً
وَأَرْبَعُونَ خَلِفَةً وَمَا صَالَحُوْا عَلَيْهِ فَهُوَ لَهُمْ وَذَلِكَ
لِتَشْدِيْدِ الْعَقْلِ.
“Barangsiapa membunuh seorang mukmin, maka perkaranya diserahkan
kepada wali korban. Apabila mereka menghendaki, mereka boleh membunuh
dan apabila mereka menghendaki, mereka boleh mengambil diyat. Yaitu
berupa 30 ekor hiqqah (unta betina berumur tiga tahun masuk empat
tahun), 30 ekor jadza’ah (unta betina berumur empat tahun masuk lima
tahun) dan 40 ekor khalifah (unta betina yang sedang bunting). Apa yang
baik bagi mereka, maka mereka boleh mengambilnya. Yang demikian untuk
memberatkan tebusan.”
Diyat berat adalah 100 ekor unta dan 40 darinya unta yang sedang bunting, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَلاَ إِنَّ دِيَةَ الْخَطَإِ شِبْهِ الْعَمْدِ مَا كَانَ بِالسَّوْطِ
وَالْعَصَا مِائَةٌ مِنَ اْلإِبِلِ مِنْهَا أَرْبَعُونَ فِي بُطُونِ
أَوْلاَدِهَا.
“Ketahuilah, sesungguhnya diyat atas pembunuhan seperti disengaja
yaitu yang dilakukan dengan tongkat atau cambuk sebesar 100 ekor unta,
40 ekor darinya adalah unta yang sedang bunting.” [4]
Pada pembunuhan yang disengaja, harta diambil dari pelaku. Sedangkan
pembunuhan yang tidak disengaja atau seperti disengaja, denda diambil
dari keluarga pelaku. Yang dimaksud keluarga di sini adalah kerabat
laki-laki yang baligh dari jalur ayah yang mampu dan berakal.
Termasuk di antara mereka orang yang buta, orang yang sakit, dan
orang yang sudah tua, jika mereka mampu. Dan tidak termasuk wanita,
orang fakir, anak kecil, orang gila, dan yang berbeda agama dengan
pelaku, karena dasar semua ini adalah memberikan pertolongan, dan mereka
tidak bisa melakukannya.
Dasar diwajibkannya diyat atas keluarga pelaku adalah hadits Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dua orang wanita dari suku
Hudzail berkelahi, dan salah satu melempar yang lain dengan sebuah batu,
sehingga ia dan bayi yang dikandungnya meninggal. Maka keluarganya
mengadukan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau
memutuskan bahwa diyat janinnya adalah seorang budak laki-laki atau
wanita, sedangkan keluarga pelaku harus membayar diyat pembunuhan wanita
tersebut. [5]
Diyat Anggota Tubuh
Pada tubuh manusia terdapat anggota tubuh yang tersendiri seperti hidung, lidah, dan kemaluan. Terdapat pula anggota tubuh yang berpasangan seperti telinga, mata, dan tangan. Juga terdapat yang lebih dari dua.
Pada tubuh manusia terdapat anggota tubuh yang tersendiri seperti hidung, lidah, dan kemaluan. Terdapat pula anggota tubuh yang berpasangan seperti telinga, mata, dan tangan. Juga terdapat yang lebih dari dua.
Apabila seseorang menghilangkan anggota badan yang tersendiri atau
yang berpasangan, maka ia harus membayar diyat secara penuh. Apabila ia
menghilangkan salah satu dari anggota tubuh yang berpasangan, maka ia
membayar setengah diyat.
Maka pelaku wajib membayar diyat penuh pada hidung, dan kedua mata.
Apabila hanya satu mata, ia membayar setengah diyat. Pada kedua kelopak
salah satu mata, separuh diyat, dan satu kelopak dari salah satu mata,
seperempatnya. Pada jemari kedua tangan dan kaki diwajibkan diyat penuh.
Pada setiap jari (diyatnya) 10 ekor unta. Pada gigi-gigi diwajibkan
diyat penuh, dan pada setiap gigi 5 unta.
Dari Abu Bakar bin ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari ‘Umar Radhiyallahu
‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau
bersabda:
وَفِي اْلأَنْفِ الدِّيَةُ إِذَا اسْتُوعِبَ جَدْعُهُ مِائَةٌ مِنَ
اْلإِبِلِ، وَفِي الْيَدِ خَمْسُوْنَ، وَفِي الرِّجْلِ خَمْسُوْنَ، وَفِي
الْعَيْنِ خَمْسُوْنَ، وَفِي اْلآمَةِ ثُلُثُ النَّفَسِ، وَفِي
الْجَائِفَةِ ثُلُثُ النَّفَسِ، الْمُنَقِّلَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ، وَفِي
الْمُوضِحَةِ خَمْسٌ، وَفِي السِّنِّ خَمْسٌ، وَفِي كُلِّ أُصْبُعٍ مِمَّا
هُنَالِكَ عَشْرٌ.
“Pada hidung apabila patah seluruhnya dikenakan diyat 100 unta, pada
satu tangan 50 ekor, satu kaki 50 ekor, satu mata 50 ekor, luka yang
mengenai kulit otak sepertiga (diyat) pembunuhan, luka yang sampai
rongga kepala atau perut sepertiga (diyat) pembunuhan, luka yang membuat
tulang terlihat 5 ekor, dan pada setiap jari diyatnya 10 ekor.” [6]
Dan dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari
kakeknya Radhiyallahu ‘anhum dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bahwasanya beliau menulis surat untuk penduduk Yaman, di dalamnya
tertulis tentang kewajiban-kewajiban, hal-hal yang sunnah dan diyat. Di
dalam masalah diyat disebutkan:
وَأَنَّ فِي النَّفْسِ الدِّيَةُ مِائَةً مِنَ اْلإِبِلِ وَفِي
الْأَنْفِ إِذَا أُوعِبَ جَدْعُهُ الدِّيَةُ وَفِي اللِّسَانِ الدِّيَةُ
وَفِي الشَّفَتَيْنِ الدِّيَةُ وَفِي الْبَيْضَتَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي
الذَّكَرِ الدِّيَةُ، وَفِي الصُّلْبِ الدِّيَةُ، وَفِي الْعَيْنَيْنِ
الدِّيَةُ، وَفِي الرِّجْلِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ، وَفِي
الْمَأْمُومَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي الْجَائِفَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ،
وَفِي الْمُنَقِّلَةِ خَمْسُ عَشْرَةَ مِنَ اْلإِبِلِ وَفِي كُلِّ أُصْبُعٍ
مِنْ أَصَابِعِ الْيَدِ وَالرِّجْلِ عَشْرٌ مِنَ اْلإِبِلِ وَفِي السِّنِّ
خَمْسٌ مِنَ اْلإِبِلِ وَفِي الْمُوضِحَةِ خَمْسٌ مِنَ اْلإِبِلِ.
“Adapun pada jiwa diyatnya 100 ekor unta, pada hidung apabila patah
seluruhnya dikenakan diyat penuh, pada lidah diyat penuh, pada dua mulut
diyat penuh, pada dua biji pelir diyat penuh, pada dzakar diyat penuh,
pada tulang punggung diyat penuh, pada dua buah mata diyat penuh, pada
sebuah kaki setengah diyat, luka yang mengenai kulit otak sepertiga
diyat, luka yang sampai rongga kepala atau perut sepertiga diyat, cidera
yang menyebabkan tulang tergeser 15 ekor unta, pada setiap jari tangan
dan kaki 10 ekor unta, pada setiap gigi 5 ekor unta, dan pada luka yang
membuat tulang terlihat 5 ekor unta.” [7]
Diyat Fungsi Anggota Tubuh
Apabila seseorang memukul orang lain, lalu orang tersebut kehilangan akalnya, atau kehilangan salah satu dari inderanya, seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perasanya, atau tidak bisa bicara total, maka pada hal demikian ia dikenakan diyat penuh.
Apabila seseorang memukul orang lain, lalu orang tersebut kehilangan akalnya, atau kehilangan salah satu dari inderanya, seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perasanya, atau tidak bisa bicara total, maka pada hal demikian ia dikenakan diyat penuh.
Dari ‘Auf rahimahullah, ia berkata, “Aku mendengar seorang kakek,
sebelum kasus Ibnu al-Asy’ats, bertingkah aneh, maka orang-orang
mengatakan, ‘Itu adalah Abul Muhallab, paman dari Abu Qilabah.’ Perawi
berkata, ‘Seseorang melempar kepalanya dengan sebuah batu, lalu
hilanglah pendengaran, fungsi lidah, akal, dan fungsi kemaluannya
sehingga tidak bisa (berhubungan dengan) wanita. Lalu ‘Umar Radhiyallahu
‘anhu memutuskan agar pelaku membayar empat kali diyat.’”[8]
Apabila mata yang benar-benar buta dicolok, maka pelaku tetap
dikenakan diyat penuh. ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Umar, dan ‘Ali Radhiyallahu
‘anhum memutuskan dengan hal itu.
Dari Qatadah rahimahullah, ia berkata, “Aku mendengar Abu Majliz
berkata, “Aku menanyakan pendapat ‘Abdullah bin ‘Umar tentang seorang
buta yang dicolok matanya.” Maka ‘Abdullah bin Shafwan berkata, ‘‘Umar
Radhiyallahu ‘anhu memutuskan hal ini dengan diyat penuh.’ Lalu aku
katakan, ‘Sesungguhnya yang aku tanyakan pendapat Ibnu ‘Umar.’ Dia
menjawab, ‘Bukankah beliau meriwayatkan kepadamu dari ‘Umar juga?’”[9]
Dari Qatadah dari Khilas dari ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
beliau berpendapat tentang orang buta yang dicolok matanya, “Jika ia
menghendaki ia meminta denda penuh, atau meminta setengah denda dan
mencolok salah satu mata pelaku.” [10]
Diyat Syijaaj
Syijaaj adalah luka pada kepala atau wajah. Luka syijaaj ada 10 jenis:
1. Al-Khaarishah, yaitu luka yang melukai kulit, namun tidak mengeluarkan darah (lecet).
2. Ad-Daamiyah, yaitu luka yang mengeluarkan darah.
3. Al-Baadhi’ah, yaitu luka yang merobek daging dengan sobekan yang besar.
4. Al-Mutalaahimah, yaitu luka yang menembus daging (lebih parah dari al-baadhi’ah.
5. As-Simhaaq, yaitu luka yang nyaris menembus tulang karena terhalang kulit tipis.
Syijaaj adalah luka pada kepala atau wajah. Luka syijaaj ada 10 jenis:
1. Al-Khaarishah, yaitu luka yang melukai kulit, namun tidak mengeluarkan darah (lecet).
2. Ad-Daamiyah, yaitu luka yang mengeluarkan darah.
3. Al-Baadhi’ah, yaitu luka yang merobek daging dengan sobekan yang besar.
4. Al-Mutalaahimah, yaitu luka yang menembus daging (lebih parah dari al-baadhi’ah.
5. As-Simhaaq, yaitu luka yang nyaris menembus tulang karena terhalang kulit tipis.
Kelima syijjaj ini tidak terdapat qishash dan diyat di dalamnya, akan tetapi berhak mendapatkan hukuman.
6. Al-Muudhihah, yaitu luka yang membuat tulang terlihat, diyatnya 5 ekor unta.
7. Al-Haasyimah, yaitu luka yang meremukkan tulang, diyatnya 10 ekor unta.
8. Al-Munqilah, yaitu yang memindahkan tulang dari tempat asalnya, diyatnya 15 ekor unta.
9. Al-Ma’muumah atau aamah, yaitu luka yang nyaris menembus otak jika tidak ada kulit tipis, diyatnya sepertiga diyat penuh.
10. Ad-Daamighah, yaitu luka yang merobek kulit otak, diyatnya juga sepertiga diyat penuh.
7. Al-Haasyimah, yaitu luka yang meremukkan tulang, diyatnya 10 ekor unta.
8. Al-Munqilah, yaitu yang memindahkan tulang dari tempat asalnya, diyatnya 15 ekor unta.
9. Al-Ma’muumah atau aamah, yaitu luka yang nyaris menembus otak jika tidak ada kulit tipis, diyatnya sepertiga diyat penuh.
10. Ad-Daamighah, yaitu luka yang merobek kulit otak, diyatnya juga sepertiga diyat penuh.
Diyat al-Jaa-ifah
Al-Jaa-ifah adalah segala sesuatu yang menembus bagian dalam tubuh yang berongga. Seperti perut, pinggang, dada, tenggorokan, dan kandung kemih.
Al-Jaa-ifah adalah segala sesuatu yang menembus bagian dalam tubuh yang berongga. Seperti perut, pinggang, dada, tenggorokan, dan kandung kemih.
Diyatnya adalah sepertiga diyat penuh, berdasarkan apa yang tercantum dalam surat ‘Amr bin Hazim:
وَفِي الْجَائِفَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ.
“Dan pada al-jaa-ifah diyatnya sepertiga diyat penuh.”
Diyat Wanita
Seorang wanita, apabila terbunuh tidak sengaja atau anggota tubuhnya diciderai, maka diyatnya adalah setengah dari diyat laki-laki.
Seorang wanita, apabila terbunuh tidak sengaja atau anggota tubuhnya diciderai, maka diyatnya adalah setengah dari diyat laki-laki.
Dari Syuraih rahimahullah, ia berkata, “‘Urwah al-Bariqi datang
menemuiku sepulang menghadap ‘Umar (dan mengatakan bahwa diyat) cidera
antara laki-laki dan wanita sama pada luka gigi dan al-muudhihah, adapun
yang lebih parah, maka diyat wanita adalah setengah dari diyat
laki-laki.” [11]
Diyat Ahli Kitab
Diyat ahli Kitab apabila mereka tidak sengaja terbunuh, maka diyatnya adalah setengah dari diyat seorang muslim. Diyat laki-laki dari mereka adalah setengah diyat laki-laki muslim, dan diyat wanita dari kaum mereka adalah setengah diyat wanita muslimah.
Diyat ahli Kitab apabila mereka tidak sengaja terbunuh, maka diyatnya adalah setengah dari diyat seorang muslim. Diyat laki-laki dari mereka adalah setengah diyat laki-laki muslim, dan diyat wanita dari kaum mereka adalah setengah diyat wanita muslimah.
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu anhum,
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan diyat untuk
ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, sebanyak setengah dari diyat kaum
muslimin.[12
Diyat Janin
Apabila janin (bayi) meninggal dengan sebab tindak pidana terhadap ibunya baik itu disengaja ataupun tidak, sedangkan ibunya tidak meninggal, maka diyatnya adalah seorang budak, baik laki-laki ataupun wanita. Sama saja apakah janinnya terpisah dan keluar dari perut ibunya ataukah meninggal di dalam, baik ia anak laki-laki maupun wanita. Apabila si ibu ikut meninggal, maka pelaku harus membayar diyat wanita tersebut.
Apabila janin (bayi) meninggal dengan sebab tindak pidana terhadap ibunya baik itu disengaja ataupun tidak, sedangkan ibunya tidak meninggal, maka diyatnya adalah seorang budak, baik laki-laki ataupun wanita. Sama saja apakah janinnya terpisah dan keluar dari perut ibunya ataukah meninggal di dalam, baik ia anak laki-laki maupun wanita. Apabila si ibu ikut meninggal, maka pelaku harus membayar diyat wanita tersebut.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dua wanita dari
suku Hudzail berkelahi, dan salah seorang dari keduanya melempar yang
lain dengan sebuah batu, sehingga ia meninggal beserta bayi yang
dikandungnya. Maka keluarganya mengadukan pada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan beliau memutuskan bahwa diyat janinnya adalah
seorang budak laki-laki atau wanita, sedangkan keluarga pelaku harus
membayar diyat pembunuhan wanita itu. Lalu anak dan keluarga korban
mewarisi harta diyat tersebut.”[13]
Apabila bayi keluar dari perut dalam keadaan hidup, kemudian
meninggal, maka ia wajib membayar diyat penuh. Apabila laki-laki maka
diyatnya 100 ekor unta, dan untuk wanita 50 ekor unta. Karena kita yakin
meninggalnya bayi tersebut karena tindak pidana, dan keadaannya bukan
sebagai janin lagi.
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September
2007M]
_______
Footnote
[1]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2128)], Sunan Abi Dawud (XII/283, no. 4518), Sunan Ibni Majah (II/878, no. 2630), Sunan an-Nasa-i (VIII/43).
[2]. Yang dimaksud pakaian disini adalah sarung, rida’, dan lain sebagainya. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud الحلل sebagaimana yang biasa dipakai penduduk Yaman, setiap setel terdiri dari dua potong pakaian. Dinukil dari ‘Aunul Ma’buud (XII/285).
[3]. Hasan: [Al-Irwaa’ (no. 2247)], Sunan Abi Dawud (XII/284, no. 4519).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2126)], Sunan Abi Dawud (XII/292, no. 4524), Sunan Ibni Majah (II/877, no. 2627), Sunan an-Nasa-i (VII/41).
[5]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XII/24, no. 6740), Shahiih Muslim (III/ 1309, no. 1681), Sunan an-Nasa-i (VIII/47-48).
[6]. Shahih bisyawaahidi (dengan beberapa penguat): [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 4513)], al-Bazzar (II/207, no. 1531) dan al-Baihaqi (no. VIII/86).
[7]. Shahih bisyawaahidi: [Al-Irwaa’ (no. 2275)], Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 4513)], Muwaththa’ Imam Malik (611/1545) dan Sunan an-Nasa-i (VIII/57, 58, 59).
[8]. Hasan: [Al-Irwaa’ (no. 2279)], Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/167, no. 6943), al-Baihaqi (VIII/86).
[9]. Sanadnya shahih: [Al-Irwaa’, no. 2270], al-Baihaqi (VIII/94), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/196, no. 7060) tanpa perkataan: “Lalu aku katakan… dst.”
[10]. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/197, no. 7062), al-Baihaqi (VIII/94).
[11]. Sanadnya shahih: [Al-Irwaa’ (VII/307)), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/300, no. 7546).
[12]. Hasan: [Al-Irwaa’ (no. 2251)], Sunan Ibni Majah (II/883, no. 2644), Sunan at-Tirmidzi (II/433, no. 1434), Sunan an-Nasa-i (VIII/45) dengan lafazh yang mirip, Abu Dawud juga meriwayatkan dengan lafazh: “ دِيَةُ الْمُعَاهِدِ نِصْفُ دِيَةُ الْحِرِّ (diyat orang kafir mu’aahid setengah dari denda orang yang merdeka),” mak-sudnya muslim (XII/323, no. 4559).
[13]. Muttafaq ‘alaih.
_______
Footnote
[1]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2128)], Sunan Abi Dawud (XII/283, no. 4518), Sunan Ibni Majah (II/878, no. 2630), Sunan an-Nasa-i (VIII/43).
[2]. Yang dimaksud pakaian disini adalah sarung, rida’, dan lain sebagainya. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud الحلل sebagaimana yang biasa dipakai penduduk Yaman, setiap setel terdiri dari dua potong pakaian. Dinukil dari ‘Aunul Ma’buud (XII/285).
[3]. Hasan: [Al-Irwaa’ (no. 2247)], Sunan Abi Dawud (XII/284, no. 4519).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2126)], Sunan Abi Dawud (XII/292, no. 4524), Sunan Ibni Majah (II/877, no. 2627), Sunan an-Nasa-i (VII/41).
[5]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XII/24, no. 6740), Shahiih Muslim (III/ 1309, no. 1681), Sunan an-Nasa-i (VIII/47-48).
[6]. Shahih bisyawaahidi (dengan beberapa penguat): [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 4513)], al-Bazzar (II/207, no. 1531) dan al-Baihaqi (no. VIII/86).
[7]. Shahih bisyawaahidi: [Al-Irwaa’ (no. 2275)], Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 4513)], Muwaththa’ Imam Malik (611/1545) dan Sunan an-Nasa-i (VIII/57, 58, 59).
[8]. Hasan: [Al-Irwaa’ (no. 2279)], Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/167, no. 6943), al-Baihaqi (VIII/86).
[9]. Sanadnya shahih: [Al-Irwaa’, no. 2270], al-Baihaqi (VIII/94), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/196, no. 7060) tanpa perkataan: “Lalu aku katakan… dst.”
[10]. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/197, no. 7062), al-Baihaqi (VIII/94).
[11]. Sanadnya shahih: [Al-Irwaa’ (VII/307)), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (IX/300, no. 7546).
[12]. Hasan: [Al-Irwaa’ (no. 2251)], Sunan Ibni Majah (II/883, no. 2644), Sunan at-Tirmidzi (II/433, no. 1434), Sunan an-Nasa-i (VIII/45) dengan lafazh yang mirip, Abu Dawud juga meriwayatkan dengan lafazh: “ دِيَةُ الْمُعَاهِدِ نِصْفُ دِيَةُ الْحِرِّ (diyat orang kafir mu’aahid setengah dari denda orang yang merdeka),” mak-sudnya muslim (XII/323, no. 4559).
[13]. Muttafaq ‘alaih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar