Selasa, 07 Juni 2011

Subhat Wali Wali Syaitan

Pada era modern ini, semakin menjamur nama paranormal, orang pintar, ahli pengobatan alternatif, supranatural, astrolog atau semisalnya. Sederet nama-nama ini turut menghiasi media cetak maupun elektronik. Mereka menjadi tempat rujukan (curhat) bagi orang-orang yang ingin mencapai tujuannya, bak dokter-dokter internis yang dikunjungi oleh pasiennya. Siapakah mereka itu?
Tentunya kita sudah tahu, sebagaimana diiklankan dalam media-media yang ada. Sebagian mereka adalah orang-orang yang mengaku bisa meramal kejadian-kejadian yang akan datang (ilmu ghaib) serta bisa meramalkan hari-hari yang baik dan hari-hari yang buruk. Sebagian lainnya membidangi khusus pengobatan alternatif supranatural tanpa obat-obatan medis ataupun operasi.

Tak kalah pula, sederet nama-nama yang berbau islami seperti; tabib, habib (tidak semua habib), dan sejenisnya juga mewarnai media-media massa, membuka praktek sebagaimana praktek paranormal dan se-level-nya. Bahkan praktek yang dibuka oleh sekelas mereka ini lebih tinggi dan luas lagi, seperti mencarikan jodoh (ilmu pengasihan/pelet), mencari barang hilang, mencari/melanggengkan jabatan, ilmu kekebalan, ilmu tolak bala, atau segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pasien/pengunjung. Lebih mengecoh lagi, manakala mereka memasang iklan-iklan disertai slogan “bebas syirik”, dan dengan gaya penampilan yang berlagak seperti wali.
Dilihat dari pengunjung (baca: pasien) mereka, ternyata berasal dari berbagai tingkat lapisan masayarakat. Walaupun katanya sudah jaman modern, pasiennya banyak juga dari kalangan intelektual, modernis, dan orang kota, bukan hanya dari orang desa saja.


Tipu Daya Syaithan
Tekad Iblis untuk menggoda anak cucu Adam telah diberitakan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Dengan segala macam daya upaya, Iblis dan bala tentaranya terus melancarkan makar dan tipu dayanya kepada umat manusia sampai hari kiamat. Mereka mengemas kebatilan dengan kemasan yang indah dan menarik. Sehingga kebatilan seakan-akan tampak benar dan menarik. Memang demikianlah sifat iblis dan bala tentaranya, sebagaimana yang Allah kabarkan di dalam Al Qur’an (artinya):
“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu dari syaithan-syaithan dari kalangan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” (Al An’am: 112)

Demikian pula, syaithan dan bala tentaranya mengemas praktek perdukunan dan sihir dengan istilah-istilah modern dan menarik seperti julukan-julukan diatas. Nama yang berbeda-beda tidaklah menjadi soal. Selama prakteknya sama seperti layaknya perdukunan dan sihir, maka apapun julukannya pada hakekatnya mereka itu sama dengan dukun atau tukang sihir.

Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Sehingga siapapun yang membuka praktek meramal kejadian-kejadian yang akan datang (ilmu ghaib) tanpa bersandar kepada Al Qur’an dan hadits yang shahih, maka itulah dukun, walaupun memakai julukan-julukan lain yang lebih modern atau islami.

Demikian pula sihir, siapa yang mengaku memilki mantra-mantra (dzikir-dzikir) tertentu yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudharat itulah yang dinamakan tukang sihir, yang lebih dikenal dengan ahli supranatural. Seperti mampu untuk menjalin kasih sayang (yang dikenal dengan ilmu pengasihan/pelet), atau sebaliknya mampu merusak hubungan suami istri, pengobatan alternatif tanpa obat-obatan medis, jamu-jamu alami ataupun operasi, ilmu tolak bala’, ilmu kekebalan atau ilmu sesat lainnya. Lebih aneh lagi, menawarkan transfer jin, transfer jimat atau pengobatan alternatif jarak jauh dengan syarat menuliskan sekian tanda tangan untuk jenis penyakit tertentu kemudian dikirimkan kepada dukun yang menawarkan iklan tersebut. Maka siapa pun ia yang kerjanya seperti diatas bisa digolongkan sebagai tukang sihir walaupun dikemas dengan julukan-julukan yang modern atau berbau islami.


Dukun dan Tukang Sihir adalah pendusta
Allah sebagai Pencipta dan Maha Mengetahui segala sesuatu di alam semesta ini telah mendustakan pengakuan mereka yang mengetahui alam ghaib, sebagaimana firman-Nya: “Katakan bahwa tidak ada seorang pun yang ada dilangit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah semata. (An Naml: 65).
“Dialah Allah yang mengetahui alam ghaib, maka Dia tidak akan menampakkan kepada seorang pun tentang alam ghaib kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya,…” (Al Jin: 26-27)
Apakah berani orang yang katanya mengetahui perkara-perkara yang bakal terjadi itu mengaku sebagai rasul? Kalau berani, sungguh ia adalah sang pendusta walaupun berlagak/berpenampilan bagaikan seperti wali. Bila berkilah, bahwa ia telah mendengar bisikan-bisikan tentang alam ghaib. Maka bisa dipastikan itu berasal dari syaithan/jin bukan dari Allah ataupun dari malaikat. Rasulullah bersabda: “Maka disana ada pencuri berita langit (dari kalangan jin) yang saling bertumpuk-tumpuk sampai ke langit (dunia). Lalu disampaikan berita tersebut kepada yang dibawahnya dan seterusnya sampai kepada tukang sihir atau dukun. Ada anak panah (dari bintang-bintang) terkadang dapat mengenai jin pencuri berita tersebut sebelum disampaikan kepada yang dibawahnya. Terkadang pula berhasil sampai kebawah sebelum anak panah menembusnya. Namun berita tersebut sudah disertai dengan seratus kedustaan.” (Al Bukhari no. 4701, dari hadits Abu Hurairah ).
Demikian pula ulah tukang sihir, yang pada hakekatnya itu hasil rekayasa syaithan. Sebagaimana firman Allah (artinya): “Akan tetapi syaithan-syaithan yang kafir itulah yang mengajarkan kepada manusia sihir.” (Al Baqarah: 102).


Perdukunan Dan Sihir, Praktek Kesyirikan
Tak aneh pula, bila mereka sengaja membumbui iklan-iklan tersebut dengan tulisan BEBAS SYIRIK! Kenapa? Supaya bisa mengesankan kepada pembaca bahwa praktek-praktek ini dibolehkan dalam agama, atau bahkan termasuk dari bagian agama. Na’udzubillah..

Pembaca sekalian, sekali lagi, jangan terjebak oleh tipu daya syaithan. Apa yang mereka katakan jelas merupakan kedustaan yang sangat nyata. Karena kebanyakan mereka bekerjasama dengan jin/syaithan dalam menjalankan prakteknya, layaknya seorang dukun atau tukang sihir.
Dalam tinjauan Al Qur’an dan As Sunnah, perbuatan mereka tergolong kesyirikan dan kekufuran kepada Allah .

Hal ini bisa dibuktikan dari beberapa sisi, di antaranya:
1. Mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib jelas merupakan kesyirikan dalam hal sifat Allah (tauhid Al Asma’ wash Shifat). Karena pengetahuan tentang perkara ghaib ini hanyalah milik-Nya semata, maka barangsiapa yang mengaku mengetahui alam ghaib berarti ia mensejajarkan sifat dirinya dengan sifat Allah Yang maha Mengetahui. Dan merupakan bentuk kekufuran karena telah mendustakan firman Allah dalam surat An Naml: 65, Al Jin: 26-27 dan ayat-ayat lainnya.
2. Biasanya untuk kelancaran praktek perdukunan atau sihir, mereka harus mengabdi (mengagungkan dan merendah diri) kepada jin-jin (syaithan). Karena jin-jin itulah pada hakekatnya yang bekerja untuk memuluskan praktek mereka. Lebih menguatkan hal ini, biasanya mereka harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang harus diberikan kepada jin-jin, seperti; sesaji-sesaji, kurban (bahkan tak sedikit anak/istrinyanya sendiri dijadikan tumbal), puasa-puasa tertentu dengan cara tertentu pula atau syarat lain sesuai bisikan dari jin-jin tersebut.


Datang Kepada Dukun Dan Tukang Sihir

Rasulullah bersabda:
مَنْ أََتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْئٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعُوْنَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi ‘Arraf (Orang pintar, dukun), dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain:
مَنْ أََتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلَ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa-apa yang diucapkannya, maka dia telah kufur terhadap apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad .” (HR. Abu Dawud).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa mendatangi dan bertanya kepada dukun merupakan dosa besar. Bahkan bila membenarkan keyakinan dukun dan seluruh apa-apa yang diucapkannya bisa menyebabkan kekufuran.

Demikian pula mendatangi tukang sihir untuk berobat atau semisalnya merupakan perbuatan dosa besar, bahkan bisa pula menyebabkan kekufuran bila ia meyakini bahwa tukang sihir tersebut bisa mendatangkan manfa’at dan menolak mudharat dengan sendirinya, selain Allah . Rasulullah bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أو تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَو سُحِرَ لَهُ
“Bukan termasuk golonganku yang mengundi nasib dengan burung dan semisalnya atau minta diundikan baginya, meramal sesuatu yang ghaib atau minta diramalkan untuknya, serta melakukan sihir atau disihirkan untuknya.” (HR. Ath Thabrani).

Bagaimanakah menonton sirkus atau sulap yang berbau perdukunan atau sihir?
Tetap tidak diperbolehkan, karena secara tidak langsung ia ikut andil dalam meramaikan pentas kesyirikan dan kekufuran kepada Allah . Padahal Allah berfirman (artinya): “Dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”


Perusak Aqidah dan Moral

Para pembaca, setelah membaca uraian di atas, tidak ada keraguan lagi bagi kita bahwa praktek sihir dan perdukunan dengan segala macam bentuk dan namanya merupakan kejahatan besar yang dapat merusak aqidah dan moral kaum muslimin.

Kerusakan-kerusakan aqidah disebabkan perdukunan dan sihir, diantaranya:

1. Keyakinan umat Islam bahwa tidak ada yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allah , dirusak dan dibuat rancu oleh para pendusta yang mengaku mengetahui ilmu ghaib. Allah berfirman (artinya): “Katakanlah, tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah.” (An Naml: 65).
2. Keyakinan umat Islam bahwa tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat dan mudharat kecuali Allah semata, dirusak dan dibuat rancu oleh pengakuan para dukun dan tukang sihir yang hakekatnya tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudharat.

Para pembaca, sesungguhnya praktek perdukunan dan sihir mencapai tingkat kriminalitas yang lebih jahat dari pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan sekalipun. Seorang dukun/tukang sihir (dengan kehendak Allah ) mampu membunuh seseorang secara perlahan dari jarak jauh, merusak hubungan suami istri, membuat orang lain menjadi gila, bahkan mencuri harta orang dengan menggunakan ilmu sihir yang dimilikinya, serta perbuatan kriminal lainnya secara terselubung, sehingga jauh dari tuntutan hukum. Sekian banyak pula penipuan yang dilakukan oleh seorang dukun, dan sekian banyak pula umat tertipu olehnya.
Sehingga tidaklah aneh jika dukun/tukang sihir -apapun nama dan istilahnya- disebut dalam Al Qur’an sebagai pembuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan kebatilan (para tukang sihir). Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan amalan para pembuat kerusakan.” (Yunus: 81).

Maka untuk menghindari kerusakan yang lebih luas, sudah seyogyanya bagi pemerintah dan kaum muslimin untuk mewaspadai semua jenis praktek sihir dan perdukunan yang semakin hari semakin beraneka ragam bentuk dan istilahnya. Wallaahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar