Selasa, 21 Januari 2014

Kewajiban atas Persendian Kita (Keutamaan Shalat Dhuha)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
كُلُّ سُلاَمَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ
“Setiap persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap harinya…”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Para pembaca rahimakumullah, Maha suci dan Maha Besar Allah ‘Azza wa jalla yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan struktur yang penuh kesempurnaan. Termasuk di dalamnya manusia.Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (at-Tiin: 4).


Di antara nikmat terbesar yang manusia dapatkan adalah keteraturan struktur dan bentuk tubuh. Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla menciptakan tubuh tersebut yang terbentuk dari susunan tulang belulang dan persendian dengan rapi dan teratur, yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu menyamai ciptaanNya yang satu ini. Bermula dari saripati tanah lalu berubah menjadi makhluk yang mengagumkan. Lihatlah firmanNya,“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mukminun: 12-14).


Ketahuilah, tidaklah Allah Azza wa jalla menyebutkan berbagai nikmat tersebut, terkhusus nikmat yang ada pada tubuh kita, melainkan untuk mengingatkan kembali akan kewajiban kita untuk mensyukuri itu semua. Bahwa tidak ada satupun di antara kita yang tidak diberi nikmat dan lepas dari pengasuhan al-Razzaq, maka bersyukurlah!!.


Di sisi lain sebagai bahan renungan agar kita mengakui akan kebesaran dan keagungan sang Pencipta, Allah ‘Azza wa jalla. Sebagaimana firmanNya, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (adz-Dzariyat: 21)


Para pembaca rahimakumullah. Demikian pula persendian kita, ternyata butuh pula untuk kita mensyukurinya setiap hari. Bagaimana caranya? Perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut, “Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap hari…” (HR. al-Bukhari dan Muslim).


Kewajiban ini yang merupakan bentuk syukur kita kepada Allah ‘Azza wa jalla atas nikmat persendian adalah dengan bersedekah untuknya. (Lihat syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)


Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap insan itu diciptakan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007).


Dari sini kita mengetahui bahwa persendian kita berjumlah 360. Bilangan ini ternyata sesuai dengan hasil riset para ahli di bidang ini di mana mereka juga menyatakan bahwa jumlah persendian setiap orang itu berjumlah 360 buah. Subhanallah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang merupakan seorang yang tidak bisa membaca dan menulis mengetahui jumlah persendian dalam tubuh yang tidak tampak oleh kasat mata. Maka tidaklah yang demikian ini kecuali menunjukkan kepada kita akan kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)


Dari sini pula kita mengetahui bahwa setiap hari kita harus bersedekah sebanyak 360 kali sesuai jumlah persendian kita. Suatu jumlah bilangan yang tidak sedikit dan memberatkan, terlebih jika yang diinginkan dari shadaqah di sini adalah shadaqah yang berupa harta benda. Maka tentunya banyak di antara kita yang merasa terbebani.


Namun ketahuilah, Islam ini agama yang mudah dan penuh rahmat/kasih sayang kepada para pemeluknya. Segala hal yang berkaitan dengan hamba dari berbagai bentuk amalan ibadah ternyata penuh dengan kemudahan. Demikian pula kewajiban shadaqah di sini, karena yang dimaksud tidak hanya shadaqah yang berupa harta, melainkan seluruh amalan shalih dan ma’ruf yang dilakukan oleh seorang hamba bisa terhitung dan dinilai sebagai sebuah shadaqah, alhamdulillah. Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seluruh perkara yang ma’ruf itu shadaqah.” (HR. al Bukhari no. 5675 dan Muslim no. 1005).


 Contoh Amalan yang Bernilai Shadaqah


Para pembaca rahimakumullah, dalam beberapa hadits disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam contoh-contoh amalan yang mengandung nilai shadaqah. di antaranya adalah kelanjutan dari hadits,


“Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban shadaqahnya…” dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan;


“Engkau mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah. Engkau membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya, itu shadaqah. Ucapan yang baik itu shadaqah. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat itu shadaqah, serta menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.”          


Dalam hadits di atas disebutkan beberapa amalan shalih yang bernilai shadaqah yaitu,
1. Mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah.


Di antara keutamaan lain amalan ini adalah sebagaimana yang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan,


“Maukah kalian aku kabarkan suatu amalan yang lebih baik dari shalat, puasa, dan shadaqah (yakni shalat, puasa dan shadaqah yang sunnah)? Para shahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “(Amalan itu adalah) mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Karena membiarkan orang-orang yang sedang berselisih merupakan sebab hancurnya agama.” (HR. Abu Daud no. 4919 dan yang lainnya. Lihat ‘Aunul Ma’bud).


2. Membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya itu shadaqah.


Dalam hadits yang lain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)


“Barangsiapa membantu saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya maka Allah akan membantu dirinya memenuhi kebutuhan pribadinya.” (HR. Al Bukhari no. 2310 dan Muslim no. 2580).


3. Ucapan yang baik itu shadaqah.


Ucapan ini umum, baik yang berkaitan dengan hak Allah seperti ucapan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti adab, akhlak dan tutur kata yang mulia serta sopan santun. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin)


Lihatlah bagaimana Allah Azza wa jalla memberikan balasan yang begitu besar kepada orang-orang yang menjaga ucapannya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab :70-71).


4. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat berjamaah itu shadaqah.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan dalam kesempatan yang lain,


“Shalat seseorang secara berjamaah melebihi shalat di rumahnya atau di pasar (yakni shalat sendirian) sebanyak 20 sekian derajat (yakni 25 dan 27 derajat). Yang demikian itu adalah jika salah seorang di antara mereka berwudhu dengan baik lalu berangkat ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya untuk pergi kecuali untuk shalat maka tidaklah dia melangkah satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan hingga masuk masjid. Jika dia masuk masjid maka dia terus dinilai sedang melaksanakan shalat selama dia menunggu shalat dan para malaikat bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya seraya mereka berkata, “Ya Allah rahmatilah dia, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya” selama dia tidak mengganggu yang lain dan selama belum batal wudhunya.” (HR. Muslim no. 649. Lihat Syarah an-Nawawi dan ‘Aunul Ma’bud).


Sebuah kisah yang terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah dipaparkan oleh ‘Ubay bin Ka’ab. Beliau menuturkan, “Dahulu ada seseorang yang aku tidak tahu apakah ada yang lebih jauh rumahnya dari masjid daripada orang tersebut namun dia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Maka suatu hari ada yang bertanya kepadanya, “Jikalau seandainya engkau membeli seekor himar (keledai) yang bisa engkau gunakan pada saat malam dan saat panas!?” Dia menjawab, “Tidaklah membuatku gembira seandainya rumahku berada di samping masjid. Sesungguhnya aku menginginkan agar Allah mencatat bagiku langkahku ke masjid dan pulangku ke keluargaku. Nabi kemudian berkata kepadanya, “Allah telah mengabulkan dan memberi apa yang engkau minta.” (HR. Muslim no. 663 dan Abu Daud no. 557).


5. Menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Iman itu 70 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapanاللهالاالهلاdan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, malu itu termasuk cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari no. 24 dan Muslim no. 35).


Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,


“Tatkala seseorang sedang berjalan di sebuah jalan, dia menemukan sebuah ranting berduri berada di tengah jalan tersebut. Lalu dia menyingkirkannya maka Allah berterima kasih kepadanya dengan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari no. 624 dan Muslim no. 1914).


Demikianlah beberapa contoh amalan shalih dan keutamaannya yang dapat diamalkan seseorang untuk bersedekah atas persendiannya. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa tidak hanya amalan-amalan ini yang bisa berfungsi sebagai shadaqah, namun seluruh amalan yang ma’ruf jika diamalkan maka juga terhitung sebagai shadaqah.


 Shalat Dhuha 2 Raka’at     


Para pembaca rahimakumullah, kita telah mengetahui bahwa setiap yang ma’ruf itu bernilai shadaqah yang mana hal ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,


“Sesungguhnya agama Islam ini adalah mudah. Dan tidaklah seorangpun yang memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan terkalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari no. 39)


Maka di antara kemudahan lain yang Allah ‘Azza wa jalla berikan kepada kita terkait dengan kewajiban bersedekah atas persendian adalah apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kabarkan dalam sebuah haditsnya,


“Seluruh persendian kalian ada kewajiban untuk bershadaqah setiap harinya. Setiap tasbih itu shadaqah. Setiap tahmid itu shadaqah. Setiap tahlil itu shadaqah. Setiap takbir itu shadaqah. Memerintahkan kepada yang ma’ruf itu shadaqah. Melarang dari yang mungkar itu shadaqah. Semuanya itu tercukupi dengan mengerjakan dua raka’at shalat dhuha.” (HR. Muslim no. 720).


Ya, kewajiban bershadaqah bagi setiap persendian yang berjumlah 360 tersebut bisa kita tunaikan hanya dengan melaksanakan shalat dhuha dua raka’at. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa menjaga shalat ini. Sebagai wujud syukur kita kepada Rabbul ‘alamin atas nikmat persendian.


Adapun seseorang yang telah melaksanakan shalat dhuha lalu ditambah dengan amalan yang lain, maka dia telah menunaikan kewajiban shadaqahnya sementara amalan-amalan yang lain tersebut terhitung sebagai amalan tambahan baginya sehingga tentunya dia akan meraup banyak kebaikan dan pahala. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Shalih Fauzan hafidzahullah)


          Allahu a’lam bish shawab, semoga bermanfaat.


Penyusun: Al-Ustadz Abdullah Imam hafidzahullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar