Minggu, 10 Juli 2016

PEDULI TETANGGA, PERANTARA MENUJU SURGA

Fenomena kehidupan bertetangga selalu berubah seiring dengan bergulirnya zaman. Dewasa ini, suasana sosial yang sesuai kaidah syariat Islam semakin susah didapatkan, apalagi hidup di lingkungan kota. Pada umumnya manusia cenderung dan asyik dengan kepentingannya masing-masing.
Di pagi hari, masing-masing pihak persiapan untuk menuju tempat aktivitasnya, kemudian pulang di waktu sore harinya. Begitulah seterusnya, tak terasa masing-masing pihak saling menutup diri, saling tidak mengenal, yang pada akhirnya melahirkan sikap individualisme “acuh” terhadap kondisi tetangganya.
Tak jarang, ada tetangga yang sakit parah untuk segera dirawat di rumah sakit, tapi karena kurang kepedulian dari tetangga, akhirnya orang tersebut meninggal (disamping Qadha’ dan Qadar Allah). Juga, kita melihat banyak anak kecil yang terlantar, mereka dengan terpaksa untuk memenuhi kebutuhannya harus minta-minta “ngencleng” dipinggir jalan, lalu dikemanakan nasib pendidikan mereka? Kemana mereka harus mengadu?

Sikap indiuvidualisme “acuh” juga mengakibatkan masing-masing pihak merasa tidak dilindungi antara satu dengan lainnya. Bila ada sebuah keluarga kecurian atau kerampokan atau tindak kriminal lainnya, terkadang pihak tetangganya merasa tidak mengetahuinya. Kalaupun tahu, terkandang pula bingung apa yang mesti dia bantu atau ia perbuat.

Di sisi lain, tidak jarang terjadi interaksi aktif antara satu dengan lainnya. Namun sayang terkadang (baca: banyak) interaksi itu bersifat negatif yang merugikan pihak lain, baik dari tutur kata yang buruk, tingkah laku yang jelek atau sesuatu lainnya yang dapat mengganggu pihak lain. Bahkan, tega berbuat zhalim (menganiaya) dan memeras pihak lain. Fenomena ini bukanlah sekedar wacana belaka, bahkan anda bisa melihat dan merasakannya sendiri.

Masyarakat Indonesia mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Sehingga semua kejadian ini terkait dengan keberadaan umat Islam. Oleh karena itu baik buruknya pergaulan masyarakat Indonesia tergantung dengan baik buruknya akhlak umat Islam. Apakah memang Islam tidak peduli dengan kondisi umatnya? Ataukah sebaliknya, umat Islam sendiri yang tidak peduli dengan adab-adab bertetangga yang dituntunkan oleh Islam (Al Qur’an dan As Sunnah)?!!!

Islam Rahmat Bagi Semesta Alam
Islam adalah agama yang Allah sempurnakan, yang mencakup dan menjawab seluruh permasalahan umat manusia dengan tepat dan sempurna, termasuk di dalamnya adab-adab dalam bertetangga. Hal ini telah diabadikan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Pada hari ini Aku sempurnakan Islam sebagai agama bagi kalian, dan Aku lengkapkan pula nikmat-Ku atas kalian, serta Aku ridha Islam menjadi agama kailan.” (Al Ma’idah: 3)

Para pembaca, demikianlah ikrar penegasan dari sang Al Khaliq (Pencipta) Allah tentang kesempurnaan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya . Sehingga ajaran-ajaran Islam, bila dipelajari oleh umatnya kemudian dipraktekkan niscaya benar-benar dapat mendatangkan kedamaian dan ketentraman, baik sesama umat Islam atau umat lainnya serta seluruh alam semesta ini. Allah berfirman (artinya): “Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa’: 107)

Demikian pula, Nabi Muhammad diutus ke muka bumi dalam rangka untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah bersabda:
وَلَقَدْ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
“Dan sungguh aku diutus (sebagai seorang rasul -pent) dalam rangka untuk menyempurnakan akhlak manusia.”

Wasiat Islam
Para pembaca, ketahuilah permasalahan “tetangga” bukanlah remeh, bahkan sangat diperhitungkan di dalam agama Islam. Terlebih lagi, Islam mewasiatkan untuk selalu menjaga dan memuliakan tetangga. Simaklah firman Allah :
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang mengadakan perjalanan) dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An Nisaa’: 36)
Di dalam ayat yang mulia ini, terdapat perintah dari Allah untuk berbuat baik kepada tetangga dan Allah membenci sifat sombong dan tidak mau peduli dengan keadaan tetangganya.
Demikian pula, Nabi Muhammad senantiasa mendapatkan wasiat dari malaikat Jibril u tentang perihal tetangga. Sebagaimana sabda beliau :
مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Senantiasa Jibril memberikan wasiat kapadaku perihal tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.” (H.R. Al Bukhari no. 6014-6015 dan Muslim no. 2624-2615, dari sahabat Aisyah dan Ibnu Umar )

Keutamaan Memuliakan Tetangga Dan Ancaman Mengganggu Tetangga
Para pembaca, telah kita ketahui bersama bahwa peduli dengan tetangga merupakan perkara yang urgen di dalam Islam. Sehingga Islam juga memberikan kedudukan mulia bagi orang yang memuliakan tetangganya dan sebaliknya, Islam memberikan ancaman keras terhadap siapa saja yang tidak mau peduli dengannya.

Berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaan memuliakan tetangga beserta ancaman yang melalaikannya. Diantaranya sebagai berikut:

a. Wasilah meraih iman yang sempurna.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah ia menggangu tetangganya.” (H.R. Al Bukhari no. 6136 dan Muslim no. 48, dari sahabat Abu Hurairah )
Bisa disimpulkan dari hadits di atas, bahwa perbuatan buruk terhadap tetangga dapat mengurangi nilai iman dia kepada Allah dan hari kiamat. Bila ia menyakini perbuatan mengganggu tetangga adalah halal (boleh), maka bisa menyebabkan batalnya nilai iman dia secara total (kufur).

b. Menjadi sebaik-baik tetangga di sisi Allah
خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبهِ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” (H.R. At Tirmidzi, dari sahabat Ibu Umar, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Al Adabul Mufrad no. 115 )
Dapat disimpulkan pula dari hadits diatas, barang siapa yang tidak memuliakan (peduli) tetangganya maka ia akan menjadi calon tetangga yang paling buruk di sisi Allah .

c. Wasilah untuk meraih Al Jannah.
Rasulullah bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَيَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ “Tidak akan masuk Al Jannah, barang siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. (H.R. Muslim), juga dalam riwayat Al Bukhari, Rasulullah bersumpah: “Tidaklah beriman kepada Allah” (sebanyak tiga kali).” Salah seorang sahabatnya bertanya: “Siapa itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: “Barangsiapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

Sungguh ada seorang wanita di jaman Rasulullah yang rajin shalat malam dan shaum di siang harinya, namun tetangganya tidak merasa aman dari kejelekan lisannya. Kabar itupun terdengar oleh Rasulullah , maka beliau bersabda: “Tidak ada kebaikan bagi dirinya. Dan ia kelak masuk dalam An Naar (neraka).” (Al Adabul Mufrad no. 119, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

Apa yang harus kita perbuat?
Islam sangat peduli dengan keberadaan tetangga. Sehingga seharusnya seorang muslim harus peka dan tanggap dengan kondisi tetangganya. Bila tetangganya membutuhkan atau memerlukan sesuatu, seharusnya ia tanggap untuk bermurah tangan kepadanya sesuai kemampuannya tanpa diminta. Pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang perlu dan butuh darinya.

Konsekuensi dari berbuat baik kepada tetangga adalah tidak berbuat atau bertindak semena-mena yang menyebabkan tetangga itu merasa terganggu atau teraniya. Sehingga membutuhkan kejelian dan kehati-hatian dari masing-masing pihak untuk tidak berkata dan berbuat kecuali setelah dipertimbangkan dengan matang antara maslahat dan mudharatnya.

Sahabat Ibnu umar berkata: “Telah datang kepada kita suatu zaman, dimana dahulu tidak ada seorang pun yang mengutamakan dinar dan dirhamnya (jenis mata uang -pen) dibandingkan saudaranya muslim, namun sekarang dinar dan dirham lebih kita cintai dibanding saudaranya yang muslim. Padahal aku mendengar Rasulullah bersabda: “Betapa banyak kelak pada hari kiamat seseorang yang nasibnya bergantung dengan tetangganya. Ia berkata kepada Rabb-nya: “Yaa Rabb-ku!, orang ini telah menutup pintu bagiku, sehingga mencegahnya untuk berbuat baik.” (Al Adabul Mufrad no. 111, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

Ada beberapa contoh hubungan bertetangga yang telah dipraktekkan di masa Rasulullah , dan para sahabatnya, sebagaimana hadits-hadits berikut ini:

1. Aisyah bertanya kepada Rasulullah : “Yaa Rasulullah! Sesungguhnya aku memilki dua tetangga. Mana yang paling berhak untuk aku berikan hadiah?” Rasulullah menjawab: “Pintu yang paling dekat denganmu.” (Al Adabul Mufrad no. 107, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

2. Sahabat Abu Dzar meriwayatkan dari Rasulullah , beliau bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتُعَاهِدَ جِيْرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, bila engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya, kemudian engkau bagikan kepada tetanggamu.” (H.R. Muslim)
Rasulullah juga bersabda:
لَيْسَ المُؤْمِنُ الَّذِي يُشْبِعُ وَجَائِرُهُ جَائِعٌ
“Tidaklah beriman seseorang, bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Al Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

3. Sahabat Abu Hurairah juga meriwayatkan dari Rasulullah :
لاَيَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشْبَةً فِيْ جِدَارِهِ
“Tidaklah pantas seseorang menghalangi bagi tetangganya untuk menumpangkan kayu/ papan pada dinding rumahnya. (H.R. Al Bukhari no. 2463 dan Muslim no. 1609, dari sahabat Abu Hurairah).
Telah datang pula riwayat dari sahabat Abdullah bin Amr . Ketika putranya menyembelih seekor kambing dan ingin dibagikan ke tetangganya, maka beliau menyuruhnya untuk memulai dari tetangga yang beragama Yahudi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengingkarinya. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah senantiasa mendapat wasiat (dari Jibril) tentang tetangga, sampai dikhawatirkan tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.” (Al Adabul Mufrad no. 128, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

Dan juga hadits-hadits lainnya, sehingga Islam telah memberikan pengajaran tentang sikap yang harus dimiliki oleh setiap umat Muhammad untuk selalu tanggap dan peduli dengan tetangganya, walaupun ia seorang kafir.
Akhir kata, mudah-mudahan nasehat ini dapat menggugah kaum muslimin untuk peduli dengan tetangganya, Amin ya Rabbal ‘alamin.
Sumber : http://mahad-assalafy.com/2016/07/11/peduli-tetangga-wasilah-meraih-al-jannah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar