Senin, 27 Juni 2016

INTROSPEKSI DIRI DI PENGHUJUNG BULAN SUCI

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wata’ala. Berjumpa dengan bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat berharga tiada terkira. Betapa tidak. Allah subhanahu wata’ala telah membuka lebar-lebar pintu rahmat dan ampunan-Nya di bulan tersebut. Beruntung sekali orang yang mendapatkan taufik untuk bisa mengisi bulan penuh barokah ini dengan berbagai amal kebaikan.
Para pembaca yang semoga mendapatkan limpahan barokah dari-Nya. Di penghujung bulan suci ini, di tengah-tengah kesibukan menyongsong hari raya Idul Fitri, perkenankanlah kami mengajak diri kami sendiri dan juga saudara-saudara kami umat Islam untuk sejenak bermuhasabah, mengoreksi diri, melihat iman dan amalan kita, apa yang sudah kita persembahkan kepada Allah subhanahu wata’ala, Sang Pencipta dan Pemberi nikmat yang tak terhingga ini? Apakah yang selama ini kita perbuat sudah cukup untuk mendatangkan ridha-Nya? Memang setiap insan beriman hendaknya senantiasa berbenah, menata kembali niat dan amalannya agar cita-cita menggapai ridha Allah subhanahu wata’ala tercapai.Kami termotivasi mengajak saudara sekalian untuk introspeksi diri di penghujung bulan suci ini, tidak lain karena teringat sebuah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ
“Betapa hinanya seseorang ketika namaku disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadaku. Betapa hinanya seseorang yang masuk padanya bulan Ramadhan, lalu ketika bulan tersebut berlalu ia belum mendapatkan ampunan. Betapa hinanya seseorang ketika ia mendapati masa senja kedua orang tuanya namun hal itu tidak bisa membuatnya ia masuk surga.” (HR. Ahmad no. 7139, dan At-Tirmidzi no. 3468)

Hadits ini membuat kita khawatir, jangan-jangan kita termasuk golongan orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya tersebut. Ramadhan berlalu sia-sia begitu saja, kosong dan hampa dari ampunan-Nya. Bagaimana tidak khawatir? Manusia itu tempatnya salah dan dosa, termasuk kita. Rasa-rasanya setiap desahan nafas, kedipan mata, ayunan tangan, dan langkah kaki selalu saja berbuah dosa. Belum sempat rasanya memohon ampun dari dosa yang lalu, sudah terjatuh ke dalam dosa yang baru.

Namun kekhawatiran itu jangan berlarut sehingga membuat kita putus harapan. Ingatlah! bahwa Allah Maha Pemurah. Kasih sayang-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Sebesar dan sebanyak apapun dosa manusia, Allah Maha Mampu dan Berkehendak untuk menghapusnya jika hamba tersebut bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya.

Para pembaca rahimakumullah. Di hari-hari terakhir bulan Ramadhan ini, setidaknya ada dua hal yang patut menjadi bahan introspeksi kita bersama, yaitu : 

Pertama, sudahkah kita memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah?

Kedua, sudahkah kita berupaya menghidupkan dengan maksimal sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah?

Bertaubat dan Banyak Memohon Ampun Kepada-Nya
Para pembaca yang berbahagia, seiring dengan banyaknya dosa dan kesalahan, maka banyak bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya merupakan sebuah kemestian. Seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya laksana sebuah gunung yang berada di atas kepalanya, setiap saat gunung itu akan runtuh membinasakan siapa saja yang berada di bawahnya.

Para pembaca rahimakumullah, apakah taubat cukup dilakukan dengan mengucapkan kalimat istighfar? Astaghfirullah, aku memohon ampun kepada Allah, sekedar itu saja?

Jawabannya: Belum cukup! Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin, menukilkan perkataan para ulama bahwa taubat itu memiliki tiga syarat, yaitu meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi selama-lamanya. Satu syarat tidak terpenuhi, gugurlah nilai taubat seseorang. Ini apabila kemaksiatan tersebut terkait dengan hak Allah saja.

Namun apabila dosa dan kemaksiatannya terkait dengan hak orang lain, seperti mencuri, menjatuhkan kehormatan orang lain, dan sebagainya, maka untuk bertaubat darinya harus terpenuhi ketiga syarat tadi, dan ditambah syarat keempat yaitu mengembalikan hak orang lain yang ia zhalimi tadi, seperti mengembalikan uang/barang yang sempat ia curi, meminta maaf atau kehalalan orang yang pernah ia jatuhkan kehormatannya, dan sebagainya. (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi dalam Bab At-Taubah dari kitab Riyadhush Shalihin).

Biasanya, bulan Ramadhan dijadikan momen untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang lazim dilakukan di luar bulan Ramadhan. Saat yang tepat untuk bertaubat. Demikianlah kurang lebih ungkapan yang terbetik di benak sebagian orang.

Hal itu bagus. Namun alangkah lebih bagusnya jika meninggalkan perbuatan maksiatnya itu bersifat kontinyu, terus menerus, tidak pernah sekalipun mengulangi perbuatanya. Apalah artinya ia meninggalkan kemaksiatan dan kebiasaan buruknya di bulan Ramadhan, namun ia sudah berniat mengulanginya kembali selepas Ramadhan nanti?

Benar-benar tidak terpuji sikap seperti itu. Bahkan, apabila seseorang yang “bertaubat” dan meninggalkan perbuatan dosa di bulan Ramadhan dengan niat akan melakukan dosa itu lagi nanti pasca Ramadhan, maka orang itu belum terhitung bertaubat, karena belum memenuhi syarat-syaratnya sebagaimana yang telah dijelaskan.

Orang yang bertaubat adalah orang yang benar-benar serius meninggalkan perbuatan maksiatnya secara total.
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 135)

Taubat yang benar adalah taubat yang diiringi dengan amal shalih sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya),
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Al-Furqan: 71)
Di bulan suci ini, ibadah puasa adalah salah satu dari sekian bentuk amal shalih yang paling utama.
Di samping puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang akan menguatkan dan mengokohkan agama seorang muslim, puasa juga mengantarkan seseorang untuk meraih ampunan Allah. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (artinya),
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena didasari keimanan dan harapan untuk meraih pahala, maka ia akan mendapatkan ampunan atas dosa yang dilakukan dahulu.” (HR. Al-Bukhari no. 1768, dan Muslim no. 1268)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa puasa Ramadhan yang membuahkan ampunan adalah puasa yang dalam pelaksanaannya didasarkan pada dua hal: imanan wa ihtisaban (keimanan dan harapan). Imanan maknanya adalah mengimani dan meyakini kebenaran syariat puasa dan keutamaannya, sedangkan ihtisaban maknanya adalah mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala semata, bukan tujuannya ingin pamer kepada orang lain atau niatan lain yang menunjukkan ketidakikhlasan dalam beribadah. (lihat Syarh Shahih Muslim karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullah)

Para pembaca, dari sini, marilah kita mengkoreksi puasa kita masing-masing. Jika kita merasa puasa kita selama ini belum didasari dua hal di atas, maka janganlah putus asa. Mudah-mudahan Ramadhan yang masih tersisa beberapa hari ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki puasa kita.

10 Hari yang Dinanti
Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, di tengah kesibukan menyongsong datangnya lebaran, alangkah mulianya jika kita benar-benar mengoptimalkan hari-hari terakhir Ramadhan dengan amal ibadah. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh junjungan dan teladan kita, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Ketika tiba 10 hari terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan shalat dan ibadah yang lainnya, serta tidak lupa beliau  membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 1174). Sebuah contoh nyata dari rumah tangga ideal, bahagia, dan sejahtera di dunia akhirat. Betapa indahnya apabila setiap keluarga meneladani beliau shallallahu alaihi wasallam.

Dalam rentang sepuluh hari ini, ada satu malam yang keutamaannya lebih baik daripada seribu bulan selain bulan Ramadhan. Dialah Lailatul Qadar. Amalan yang dikerjakan pada malam tersebut lebih baik dan lebih utama dibandingkan amalan serupa yang dilakukan selama seribu bulan selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (artinya),
“Barangsiapa yang menghidupkan dan mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 1768 dan Muslim no. 1268)
Walaupun Lailatul Qadar itu terjadinya pada malam ganjil, namun seseorang yang berupaya mencari Lailatul Qadar hendaknya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan semuanya, tidak dikhususkan pada malam yang dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadar saja.

Kepastian kapan dan pada malam ke berapa Lailatul Qadar terjadi, hanya Allah subhanahu wata’ala yang tahu. Di antara hikmah tidak diketahuinya secara pasti waktu Lailatul Qadar tersebut adalah agar setiap hamba secara terus menerus semakin memperbanyak amalannya dalam rangka mencari Lailatul Qadar di malam-malam yang penuh kemuliaan tersebut dengan shalat, dzikir, dan do’a. Sehingga akan semakin bertambahlah kedekatan mereka kepada Allah ta’ala dan bertambah pula pahala yang akan diraihnya. (Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin)

Kalau waktu terjadinya Lailatul Qadar diketahui, pada malam ke-21 misalnya, maka bisa jadi pada malam-malam yang tersisa, seorang hamba akan bermalas-malasan, tidak semangat dalam beribadah dan menambah timbangan kebaikannya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang meraih ampunan-Nya. Amin.

Wallahu A’lam Bishshawab
Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah.

Buletin Al-Ilmu Edisi no. 36/VIII/XIV/1437 H

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar