Sabtu, 28 November 2015

Tentang MENJADIKAN ILMU DIEN SEBAGAI MATA PENCAHARIAN DAN MENCARI KEDUDUKAN

Berkata asy-Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkholi -rahimahullah-:
Adapun seseorang yang menjadikan ilmu dien sebagai mata pencaharian, sebagaimana yang lainnya dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang menekuninya sebagai wasilah untuk mendapatkan penghasilan berupa harta dan memperoleh kedudukan, serta mencapai kursi kepimpinan dan kekuasaan, maka sesungguhnya dia tidak akan pernah menaruh perhatian untuk menyebarkan ilmunya kepada orang-orang yang membutuhkan, tidak pula ia memikirkan bahwa baginya ada kewajiban terhadap Allah pada perkara tersebut, dan nanti ia akan memikul tanggung jawab yang besar dan menyesal dengan penyesalan yang sangat di hari ketika seluruh pemilik ilmu ditanya tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya.

Sungguh telah datang dalam sebuah hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bahwa beliau berkata :
من تعلم علما مما يبتغي به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة
((Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu dari perkara yang seharusnya ia mengharapkan wajah Allah dengannya, tetapi tidaklah ia mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian daripada dunia, maka ia tidak akan mendapati bau surga di hari kiamat))
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Berkata Ibnu ‘Abdil Bar an-Namiri al-Qurthubi memberi catatan pada hadits ini yang terkandung padanya ancaman yang keras bagi siapa saja yang mencari dunia dengan ilmunya, ketika beliau -rahimahullah- mengatakan :
“Sebab hal ini -wallahu a’lam- : bahwa di dunia terdapat surga yang disegerakan, yaitu mengenali Allah, mencintaiNya, senang denganNya, rindu untuk berjumpa denganNya, serta takut dan taat kepadaNya, dalam keadaan ilmu yang bermanfaat akan menuntun kepada hal tersebut. Maka barangsiapa yang ilmunya telah menuntunnya untuk memasuki surga yang disegerakan di dunia ini, ia akan masuk ke dalam surga di akhirat, dan barangsiapa yang tidak mencium aromanya, maka ia tidak akan mencium aroma surga di akhirat.

Oleh karena itu manusia yang paling keras siksanya di hari kiamat adalah orang yang tidak bermanfaat ilmunya untuknya di hadapan Allah. Ia juga manusia yang paling besar penyesalannya, ketika bersamanya ada alat yang bisa mengantarkannya kepada derajat yang paling tinggi dan kedudukan yang paling atas, akan tetapi ia tidak menggunakannya kecuali hanya untuk mengantarkannya kepada perkara-perkara yang paling hina, paling rendah dan paling tak berharga.
Maka ia bagaikan orang yang bersamanya ada mutiara-mutiara yang berharga dan bernilai mahal, lalu ia menjualnya/menukarnya dengan kotoran atau sesuatu yang menjijikkan dan tidak bermanfaat sama sekali. Maka inilah kondisi orang yang mencari dunia dengan ilmunya”.

Telah tsabit pula dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda :
لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء ، ولا لتماروا به السفهاء ، ولا لتحيزوا به المجالس ، فمن فعل ذلك فالنار النار
((Janganlah kalian mempelajari ilmu dengan tujuan membanggakannya di hadapan ulama’, tidak pula untuk mendebat orang-orang bodoh, tidak pula untuk menggiring manusia untuk bermajelis dengannya. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka neraka, neraka)). Diriwayatkan at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dengan maknanya, dan al-Hakim di dalam al-Mustadrok dengan lafadznya.
Berkata pula Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :
لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء ، ولا لتماروا به السفهاء ، أو لتجادلوا به الفقهاء ، أو لتصرفوا به وجوه الناس إليكم ، وابتغوا بقولكم وفعلكم ما عند الله فهو يبقى ويفنى ما سواه
“Janganlah kalian mempelajari ilmu dengan tujuan membanggakannya di hadapan ulama’, tidak pula untuk beradu mulut dengan orang-orang bodoh, atau berdebat dengan orang-orang faqih, atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia ke arah kalian. Serta carilah apa yang ada di sisi Allah dengan perkataan dan perbuatan kalian, karena itulah yang menjadi kekal di sisi Allah sedangkan yang selain daripada itu akan sirna”.

Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu :
“Wahai pemikul al-Qur’an, beramallah dengannya. Karena seorang yang berilmu itu hanyalah orang yang mengamalkan apa yang ia ketahui, sehingga amalannya sesuai dengan ilmunya. Nanti akan ada segenap kaum yang mereka mempelajari ilmu dalam keadaan tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Apa yang tersembunyi (di hati mereka -ed) menyelisihi apa yang nampak dari mereka. Mereka duduk berhalaqoh-halaqoh, lalu sebagian mereka saling membanggakan kepada sebagian yang lain hingga salah seorang dari mereka akan marah kepada orang yang duduk bermajelis dengannya jika ia duduk di majelis yang lain dan meninggalkan majelisnya. Mereka itulah yang tidak akan naik amalan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla pada majelis-majelis mereka tersebut”.

Aku katakan : beranjak dari kandungan nash-nash yang shahih dan atsar-atsar yang arif ini, maka diwajibkan bagi para penuntut ilmu di setiap masa dan daerah, juga bagi setiap penduduk lokal maupun pendatang :

1. hendaknya mereka mengamalkan ilmu mereka secara lahir dan batin.

2. hendaknya mereka menaruh perhatian dalam menyebarkan ilmunya dan menjelaskannya kepada manusia dalam rangka meneladani para Nabi Allah, para RasulNya, dan orang-orang shalih dari hamba-hambaNya.

3. hendaknya mereka ikhlas kepada Allah di dalam mereka menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia dengan cara tidak mengharap ganjaran melainkan hanya dari Allah, serta tidak merasa khawatir kepada seorangpun dari makhluk selainNya.

4. hendaknya mereka mempelajari sikap tawadhu’ terhadap ilmu, rendah hati, tenang, dan berwibawa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dengannya dan dengan orang-orang yang diberi ilmu, akal, zuhud, wara’, dan bertakwa, yang dengan perantara mereka Allah jaga berbagai bidang ilmu yang mulia.
Yang aku maksudkan adalah para shahabat dan tabi’in (orang-orang yang mengikuti shahabat) di setiap zaman dan tempat dari kalangan para pemimpin dalam hal ilmu, keutamaan, dan agama. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dengan petunjuk merekalah hendaknya engkau meneladani, hingga datang kepadamu kematian dari Rabbmu.

5. hendaknya mereka bersabar atas gangguan yang tidak bisa lepas darinya bagi penuntut ilmu, terkhusus ketika hendak menunaikan haknya ilmu, yaitu menerapkannya di medan kehidupan dunia ini dengan tatacara yang syar’i serta menyeru manusia kepada hal tersebut dengan kegigihan, kesungguhan, jujur dan ikhlas.

Sumber : “al-Manhaj al-Qowi fi atTa-assii bi ar-Rasul al-Karim shalallahu ‘alaihi wa salam”, karya Fadhilatu asy-Syaikh Zaid al-Madkholi -rahimahullah-. dengan sedikit perubahan pada judul tulisan

Yang menukilkan : Kamal Ziyadi – Forum Sahab Salafiyah

http://www.sahab.net/home/?p=1686

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar