Selasa, 21 Juli 2015

Ibroh dan Pelajaran Emas yang Terpetik dari Bulan Romadhon

Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-
(Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa)
Romadhon telah pergi bersama berita-berita dan berbagai peristiwa baik dan buruk yang terjadi di dalamnya. Berbahagialah orang-orang yang banyak melakukan amal sholih di dalamnya berupa sholat tarwih dari awal hingga akhir bulan, tilawatul Qur’an, bersedekah, berpuasa, ber-i’tikaf, berdzikir, dan lainnya.

Celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang pernah ia kerjakan, disebabkan karena kelalaiannya dalam memanfaatkan Bulan Romadhon dengan sebaik-baiknya.

Banyak ibrah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik dari berbagai peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama Bulan Romadhon. Ibrah ini amat berharga bagi orang-orang yang menginginkan kebaikan dirinya di dunia dan akhirat.

Ibrah dan pelajaran berharga dari bulan Romadhon, perlu kami ingatkan sebagai bentuk pengamalan firman Allah -Azza wa Jalla- :
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ [الذاريات/55]
“Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Adz-Dzariyat : 55)

Para pembaca yang budiman, kali ini kami akan menyajikan beberapa buah petikan ibrah dan pelajaran berharga dari Bulan Romadhon, yang kami sadurkan dari tulisan Guru kami, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamed Al-Abbad Al-Badr -hafizhahullah-, seorang ulama hadits dari negeri Madinah Nabawiyyah. Judul tulisan ringkas itu “Al-Ibroh fi Syahr Ash-Shoum”

Berikut ini beberapa petikan ibrah dari kitab tersebut:

Ibrah Pertama

Sesungguhnya hari-hari dari Bulan Romadhon, jika berlalu pada diri seorang muslim, maka ia merupakan kesempatan amat berharga dalam umurnya. Terkadang kesempatan emas ini berulang baginya, terkadang pula ajal lebih dahulu menjemputnya sebelum tibanya bulan suci ini.
Intinya, engkau gunakan kesempatan emas ini dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhkan diri dari maksiat.

Lebih penting dari semua itu, munculnya kesinambungan kedua hal itu, yakni seorang hamba tetap di atas ketaatan dan jauh dari maksiat. Sebab diantara balasan kebaikan, adanya kebaikan setelahnya. Sama halnya dengan keburukan. Diantara hukuman atas keburukan, adanya dan munculnya keburukan lain setelah itu.
Jika seorang hamba diberi taufiq untuk mendapati bulan Romadhon dan ia pun mengisinya dengan ketaatan kepada Robb-nya (Allah) sehingga jiwanya pun terbiasa dan terlatih dalam ketaatan di hari-hari yang indah dari Bulan Romadhon itu, karena semata-mata ia cinta kepada balasan kebaikan yang ada di sisi Allah di akhirat. Dirinya pun menahan diri dari maksiat karena takut kepada siksa Allah.

Pelajaran berharga dan ibrah yang indah dari bulan suci Romadhon ini, seorang hamba melazimi dan menjaga amal-amal ketaatannya serta terus-menerus membiasakan dirinya bersih dari maksiat. Sebab Allah menuntut dari seorang hamba, adanya penghambaan diri dan ketundukan kepada-Nya sampai ajal menjemput dirinya.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ [الحجر/99]
“Dan ibadahilah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (QS. Al-Hijr : 99)
Ayat yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa ibadah seorang tidaklah terputus di dunia ini sampai ajal menjemputnya. Adapun akhirat, maka ia akan menemui hisab dan perhitungan dari Allah -Azza wa Jalla-.

Seorang hamba dituntut agar ia selalu dan terus-menerus menjaga kesempurnaan dari keislamannya sampai ia mati di atasnya.
Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران/102]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran : 102)
Seorang muslim yang telah merasakan manisnya ketaatan selama Romadhon, tidak pantas baginya menggantikan manisnya ketaatan tersebut dengan pahitnya maksiat. Tidak patut seorang bagi seorang hamba yang telah menundukkan syaiton di Bulan Romadhon, lalu seusai Romadhon ia pun diperbudak oleh musuhnya (syaithon). Bukanlah sifatnya seorang muslim yang ingin menasihati dirinya, ia tiggalkan amal-amal kebaikan seiring perginya Romadhon.
Ketahuilah Allah sembahan kita di Bulan Romadhon dan selainnya adalah Maha Hidup, tidak mati; senantiasa tegak, tidak tidur atau ngantuk.

Ibrah Kedua

Shiyam (puasa) adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhan-nya. Tidak yang mengetahui hakikat dirinya, kecuali Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
“Semua amaln anak cucu Adam dilipatgandakan; satu kebaikan menjadi 10 kali lipatnya sampai 700 kali lipat. Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “kecuali puasa. Karena sungguh ia adalah untuk-Ku. Aku-lah yang akan membalasnya. Dia (orang yang berpuasa) itu meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku “. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1151) dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (no. 2215)]
Jadi, puasa itu rahasia seorang hamba dengan Tuhan-nya, sebab boleh saja ia bersembunyi dari manusia dan mengunci pintu rumahnya agar ia bisa makan dan minum, lalu keluar menemui manusia seraya berkata, “Aku berpuasa”.
Tidak ada yang mengetahui hal itu, kecuali Allah -Tabaroka wa Ta’ala-. Hanya saja orang yang berpuasa menahan diri dari semua itu, karena ia merasa diawasi dan diketahui oleh Allah. Ini merupakan sifat yang terpuji pada diri seorang hamba.

Dari sini muncul ibrah indah dan pelajaran berharga bahwa jika ia takut kepada Allah dalam merusak puasanya, maka mestinya ia takut kepada Allah saat ia ingin melalaikan dan menelantarkan kewajiban-kewajiban agama lainnya, seperti sholat, zakat, haji dan lainnya.

Ibrah Ketiga 

Diantara perkara yang melapangkan dada dan memasukkan rasa gembira pada jiwa-jiwa yang baik, ramainya masjid-masjid dan dipenuhi oleh orang-orang yang sholat di Bulan Romadhon. Jika ia senang melihat pemandangan demikian, maka tentunya lebih besar lagi kegembiraan kita di saat melihat mulainya muncul kesadaran untuk meramaikan masjid dalam menjalankan sholat jama’ah serta menjaga rutinitas indah itu di bulan-bulan lain agar ia menjadi salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi di Padang Mahsyar, pada hari itu tak ada naungan, selain Naungan Arsy-nya Allah -Tabaroka wa Ta’ala-.

Sungguh salah golongan itu, seorang yang hatinya tergantung di masjid, yakni senantiasa merindukan masjid untuk menunaikan sholat jama’ah bersama orang-orang beriman, sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebagian hadits shohih. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 660) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1031)]

Ibrah Keempat

Wajibnya menahan diri dari makanan, minuman dan seluruh perkara yang membatalkan puasa di Bulan Romadhon. Adapun menahan diri dari perkara haram, maka waktunya adalah sepanjang hidup manusia.
Jadi, seorang muslim menahan diri dari yang halal dan haram. Ia juga menahan dirinya –selama ia masih hidup- dari perkara yang haram.

Menahan diri dari yang halal dan haram sekaligus, telah berlalu masanya. Adapun menahan diri dari yang haram, maka hal itu berkesinambungan dan terus-menerus.
[selesai pada tanggal 11 Sya’ban 1436 H]
Sumber : http://almakassari.com/artikel-islam/ramadhan/ibroh-dan-pelajaran-emas-yang-terpetik-dari-bulan-romadhon.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar