Selasa, 06 Januari 2015

ILMU ADALAH TAKUT KEPADA ALLAH

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal hafizhahullah
“Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah ulama.” (Fathir: 28)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Sesungguhnya hanyalah.”
Lafadz ini menunjukkan pembatasan. Pembatasan dalam satu kalimat bermakna istitsna’ (pengecualian/pengkhususan). Adapun istitsna’ dalam konteks kalimat penafian, menurut jumhur ulama, mengandung makna penetapan (itsbat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 16/177)
“Ulama.”

Ia adalah bentuk jamak dari alim. Yang dimaksud adalah orang yang berilmu tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mengerti tentang hukum halal dan haram. Inilah yang dimaksud ilmu apabila disebut secara mutlak (tanpa pengait) dalam kitabullah dan sunnah Rasul Shallallahu `alaihi wa sallam. Ini pula ilmu yang jika kita mempelajari dan mengamalkannya akan mendapat keutamaan. Hal ini karena selain ilmu syariat, tidak ada perbedaan dalam mengetahuinya antara seorang mukmin dan kafir.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang menunjukkan dua perkara:
1. Ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala), Asmaul Husna yang dimiliki-Nya, sifat-sifat-Nya Yang Mahaagung, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan.
Hal ini menumbuhkan sikap pengagungan, pemuliaan, rasa takut kepada-Nya, rasa cinta, berharap, bertawakal, dan ridha dengan ketetapan-Nya, serta bersabar atas musibah yang menimpa.
2. Berilmu tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan dimurkai-Nya, berupa berbagai keyakinan, amalan, dan ucapan, baik yang lahir maupun batin. (Lihat Fadhlu Ilmis Salaf, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali Rahimahullah, hlm. 73)
Syaikhul Islam Rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Mereka adalah para ulama yang beriman kepada apa yang dibawa oleh para rasul. Merekalah yang takut kepada-Nya.” (Majmu’ al-Fatawa, 16/177)

Tafsir Ayat
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seorang yang alim (berilmu). Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang jahil.
Rasa takut manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar keilmuan dan keyakinan seseorang kepada Rabbnya.

Mujahid Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, orang yang alim adalah yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Beliau Rahimahullah juga berkata, “Orang yang fakih adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Cukuplah rasa takut seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ilmu, dan cukuplah kelalaian seseorang kepada-Nya sebagai kejahilan.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya, orang fakih yang sebenar-benarnya adalah orang yang tidak menyebabkan manusia putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak memberi kemudahan kepada mereka untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak memberi rasa aman kepada mereka dari siksaan-Nya, serta tidak menyebabkan manusia meninggalkan al-Qur’an dan mencari alternatif selainnya. Sesungguhnya, tidak ada kebaikan dalam satu ibadah yang tidak dibarengi ilmu, tidak pula ada kebaikan pada satu ilmu yang tidak terkandung pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca al-Qur’an yang tidak disertai tadabbur.” (Lihat atsar-atsar ini dalam Tafsir Ibnu Katsir tatkala menjelaskan ayat ini)

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Tidaklah seseorang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dia seorang alim. Oleh karena itu, setiap yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dialah alim. Demikianlah konteks ayat ini. Para ulama salaf dan kebanyakan para ulama mengatakan bahwa setiap alim berarti dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana ayat yang lain juga menunjukkan bahwa siapa yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia jahil.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abul Aliyah Rahimahullah, ‘Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Sesungguhnya, tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan.” (an-Nisa: 17)

Mereka (para sahabat Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam) berkata kepadaku, ‘Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia jahil.’
Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, al-Hasan al-Bashri, dan yang lainnya dari kalangan ulama tabi’in dan yang setelahnya, rahimahumullah.” (Majmu Fatawa, 16/176—177)

As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Semakin seseorang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula rasa takut kepada-Nya. Rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebabkannya meninggalkan kemaksiatan serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, karena ia akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang yang takut kepada-Nya adalah orang-orang yang mendapatkan kemuliaan-Nya, sebagaimana firman-Nya,
“Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Hal itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (al-Bayyinah: 8) (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya adalah para ulama yang memiliki ma’rifat (pengetahuan) tentang-Nya. Hal ini karena setiap kali bertambah pengetahuan seseorang kepada Yang Mahaagung, Mahakuasa, dan Maha Berilmu, yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dengan asmaul husna, semakin bertambah dan sempurna pengetahuan seseorang kepada-Nya. Maka dari itu, rasa takut kepada-Nya pun semakin bertambah dan semakin kuat.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Maknanya, tidak ada yang takut kepada-Nya selain seorang alim. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa setiap yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia adalah seorang alim, sebagaimana firman-Nya di dalam ayat yang lain,
(Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (az-Zumar: 9)
Rasa takut (khasy-yah) selalu mengandung sifat berharap (raja’). Jika tidak demikian, dia akan menjadi seorang yang berputus asa (dari rahmat-Nya). Sejalan dengan itu, perasaan berharap mengharuskan adanya rasa takut, sebab ketiadaan hal tersebut dapat menyebabkan seseorang merasa aman (dari kemurkaan-Nya). Jadi, orang yang memiliki rasa takut dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah para ulama yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 7/21)

Tanda Ilmu adalah Khasy-yah
Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu yang hakiki, yang akan memberi manfaat kepada pemiliknya, adalah yang menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin bertambah ilmu yang bermanfaat yang dimiliki oleh seorang hamba, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, para nabi, orang-orang saleh, para shiddiqin, dan para syuhada, memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih daripada selain mereka yang tingkat keimanannya lebih rendah.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan bahwa apabila Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin, beliau memerintah mereka dengan sesuatu yang mampu mereka lakukan. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami tidak seperti engkau, wahai Rasulullah. Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni apa yang telah lalu dari dosamu dan yang akan datang.” Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam marah mendengar hal itu hingga kemarahan tersebut tampak di wajah beliau Shallallahu `alaihi wa sallam, lalu bersabda:
إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا
“Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’alaadalah aku.” (HR. al-Bukhari, 1/20)

Dalam riwayat Muslim Rahimahullah dengan lafadz,
وَاللهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلهِِ وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي
“Demi Allah, sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang paling berilmu dengan apa yang aku tinggalkan.” (HR. Muslim no. 1110)

Dalam riwayat Muslim Rahimahullah dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anhuma,
أَمَا وَاللهِ إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ
“Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah hamba yang paling bertakwa di antara kalian dan yang paling takut kepada-Nya.” (HR. Muslim no. 1108)

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam menggandengkan rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu.
Al-Allamah asy-Syinqithi Rahimahullah berkata, “Telah dimaklumi bahwa nabi Shallallahu `alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah orang yang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling mengetahui tentang hak-hak dan sifat-sifat-Nya, serta pengagungan yang menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bersamaan dengan itu, mereka menjadi hamba yang paling banyak ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang paling takut serta berharap mendapat rahmat-Nya.” (Adhwaul Bayan, 2/325)

Tumbuhnya rasa khasy-yatullah dalam diri seorang hamba akan memberikan pengaruh pada keimanan dan amalannya. Di antara pengaruh tersebut adalah:
  1. Ia akan semakin giat menjalankan ibadah dengan penuh rasa takut dan berharap.
  2. Ia akan meninggalkan kemaksiatan baik di keramaian maupun saat sendirian.
  3. Senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berzikir, membaca al-Qur’an, dan yang semisalnya.
  4. Tidak memasukkan ke dalam perutnya sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  5. Merasa yakin dengan apa yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa kenikmatan bagi orang yang bertakwa dan siksaan bagi yang durhaka.
  6. Tidak berkata tanpa ilmu dalam urusan agama.
Gelar Bukan Ilmu
Sebagian orang menyangka bahwa tanda seorang yang berilmu adalah jika dia memiliki banyak hafalan dan riwayat. Sebagian lagi ada yang menyangka bahwa tanda seorang alim adalah jika dia memiliki gelar akademis seperti Lc, MA, doktor, profesor, dan yang lain. Ini adalah pemahaman yang keliru.
Jika seseorang memiliki semua yang disebutkan, namun ilmu yang dimilikinya tidak menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dirinya dan tidak memberikan perubahan ke arah yang baik dalam kehidupannya—dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidupnya—, dia bukanlah seorang yang berilmu. Ilmu yang dimilikinya justru akan menjadi hujah yang dapat membinasakannya. Wallahul musta’an.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Ilmu itu bukanlah dengan banyak meriwayatkan hadits, namun ilmu adalah khasy-yah.”
Al-Imam Malik Rahimahullah berkata, “Ilmu itu bukan dengan sekadar banyak menghafal riwayat, namun ilmu adalah cahaya yang diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hati seorang hamba.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/555)

Abu Hayyan at-Taimi berkata, “Ulama itu ada tiga: (1) seorang yang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, (2) seorang yang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan (3) seorang yang berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Yang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah-Nya, dialah yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Adapun yang berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.
Sementara itu, yang berilmu tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak berilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah orang yang mengerti sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya, namun dia tidak takut kepada-Nya.” (Jami’ Bayani Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/47)

Al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah mengingatkan para pelajar yang belajar agama di bangku universitas, “Hal yang menyedihkan di zaman kita sekarang ini adalah yang menjadi tolok ukur menentukan keilmuan manusia adalah gelar-gelar. Anda punya gelar, maka Anda akan diberi pekerjaan dan jabatan sesuai dengan gelar tersebut. Bisa jadi, seseorang bergelar doktor lalu diberi pekerjaan sebagai pengajar di sebuah universitas, padahal dia adalah orang yang paling jahil.

Sementara itu, ada seorang pelajar setingkat sekolah menengah yang jauh lebih baik darinya, dan ini kenyataan. Sekarang ini, ada orang yang bergelar doktor namun dia tidak mengerti ilmu sedikit pun. Bisa jadi, dia lulus dengan cara menipu atau lulus dalam keadaan ilmu tersebut belum melekat pada dirinya. Namun, dia tetap diangkat sebagai pegawai karena memiliki ijazah doktor. Di sisi lain, ada seorang penuntut ilmu yang baik, lebih baik daripada manusia lainnya dan lebih baik seribu kali daripada doktor ini, namun dia tidak diberi jabatan. Dia tidak mengajar di perguruan tinggi. Mengapa? Karena dia tidak berijazah doktor.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/436).
Wallahul muwaffiq.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar