Senin, 11 Agustus 2014

SEBAB HILANGNYA NIKMAT

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
Di antara malapetaka yang tersembunyi namun banyak menyebar adalah keberadaan seorang hamba pada sebuah kenikmatan yang Allah Subhanahu wata’ala karuniakan kepadanya dan Allah Subhanahu wata’ala pilihkan untuknya, lalu hamba tersebut merasa bosan dengannya dan meminta untuk beranjak menuju nikmat lain yang dia anggap lebih baik berdasarkan penilaiannya yang bodoh. Namun Allah Subhanahu wata’ala dengan kasih sayang-Nya tetap belum mengeluarkannya dari nikmat tersebut dan masih memaafkannya atas kebodohannya serta kejelekan pilihannya untuk dirinya sendiri.

Sampai nanti ketika dadanya terasa sesak terhadap nikmat tersebut, merasa marah dan resah dengannya, sehingga rasa bosan semakin menguat pada dirinya, Allah Subhanahu wata’ala pun akan mencabut nikmat tersebut dari dirinya. Maka ketika dia berpindah kepada apa yang dicari dan melihat perbedaan antara nikmat yang ia berpindah darinya dengan apa yang sekarang ia ada padanya, maka ia semakin gundah gulana, menyesal dan berharap untuk kembali kepada nikmat yang ia ada padanya dahulu.

Bila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan dan kelurusan bagi hamba-Nya, Allah Subhanahu wata’ala akan mempersaksikan kepadanya bahwa apa yang ia sedang berada padanya merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wata’ala dan merupakan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala padanya, sehingga Allah  Subhanahu wata’ala akan mengilhamkan dia untuk bersyukur. Oleh karena itu, manakala dia ingin berpindah darinya, iapun ber-istikharah kepada-Nya (minta dipilihkan oleh Allah Subhanahu wata’ala), dengan perasaan bahwa ia tidak mengetahui maslahat untuk dirinya, merasa lemah terhadapnya, dan menyerahkan urusannya kepada Allah  Subhanahu wata’ala serta meminta-Nya pilihan yang terbaik.

Tidak ada bagi hamba sesuatu yang lebih mencelakakan daripada rasa bosannya terhadap nikmat Allah Subhanahu wata’ala. Karena, dengan begitu ia tidak melihatnya sebagai suatu nikmat dan ia pun juga tidak akan mensyukurinya. Ia juga tidak akan merasa senang dengannya, sehingga ia akan membencinya, mengeluhkannya dan menganggapnya sebagai musibah. Padahal itu sesungguhnya termasuk nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang terbesar baginya.

Jadi, mayoritas manusia itu adalah musuh-musuh bagi nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan untuk mereka. Mereka tidak merasakan dibukanya nikmat Allah Subhanahu wata’ala untuk mereka. Justru mereka berusaha menolaknya karena kebodohan dan sifat zalim mereka. Betapa sering sebuah nikmat berjalan menuju kepadanya sementara ia berupaya untuk menolaknya dengan kesungguhannya. Betapa banyak pula nikmat yang telah sampai kepadanya namun dia masih juga berusaha untuk menolaknya atau menghilangkannya karena kebodohan dan kezalimannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 53)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman juga:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11)
Sehingga, tidak ada yang lebih memusuhi nikmat daripada jiwa hamba itu sendiri. Dia bersama musuh dirinya yang sebenarnya telah membantu untuk melawan dirinya sendiri. (Ibarat) musuhnya melempar api terhadap nikmat, sementara dia yang meniup-niup api tersebut. Dia membantu musuhnya untuk melempar api kepadanya kemudian dia membantunya dengan meniupnya. Bilamana api semakin besar nyalanya, barulah ia meminta-minta bantuan untuk melawan api tersebut. Ujungnya adalah tidak ikhlas dalam menerima takdir.
Dan orang yang lemah akalnya akan menyia-nyiakan kesempatannya, Sehingga bila kehilangan sesuatu, ia akan mencela takdir (Al-Fawa’id hal. 201)
As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak akan mengubah suatu nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada suatu kaum, baik nikmat agama maupun nikmat duniawi. Bahkan Allah Subhanahu wata’ala akan menetapkannya dan menambahnya bila ia menambah rasa syukurnya.  (Sehingga merekalah yang mengubah apa yang ada pada diri mereka) dari ketaatan kepada maksiat, sehingga mereka mengkufuri nikmat Allah dan menggantinya dengan ingkar. Allah Subhanahu wata’ala pun mencabut nikmat tersebut dan mengubahnya sebagaimana mereka mengubahnya pada diri mereka. Hal itu mengandung hikmah dan keadilan Allah Subhanahu wata’ala serta kebaikan-Nya kepada hamba-Nya, di mana Allah Subhanahu wata’ala tidak menghukum mereka melainkan karena kezaliman mereka sendiri.” (Tafsir As-Sa’di, Surat Al-Anfal: 53)
————————————————-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar