Jumat, 01 November 2013

Istighotsah Syirik

Kesyirikan demi kesyirikan telah melanda umat Islam di negeri kita, karena minimnya ilmu mereka tentang tauhid, dan sibuknya mereka dengan urusan dunia yang melalaikan mereka dari mengkaji agama mereka.
Sebagian kaum muslimin ada yang terjatuh dalam kubang kesyirikan dari pintu istighotsah (meminta pertolongan di kala susah) kepada nabi, wali, dan lainnya. Mereka menyangka bahwa ber-istighotsah kepada makhluk adalah perkara yang disyari’atkan.

Ini jelas salah dan batil!! Kesalahan dan kebatilan seperti ini dilandasi oleh kesalahpahaman tentang makna istighotsah, sehingga mereka rancu dalam memahami antara istighotsah dan tawassul.
Istighotsah, maknanya adalah meminta al-ghouts (pertolongan) di saat susah atau menghadapi musibah. Sedang tawassul adalah seorang hamba mencari jalan menuju Allah dengan berdoa kepada Allah sambil menyebutkan nama atau sifat-Nya, menyebut amal sholihnya, atau doa orang lain. Jadi, tawassul adalah ibadah yang tetap kita minta dan hadapkan kepada Allah, bukan kepada wali-wali atau orang sholih.
Dekade belakangan ini, muncul sebuah ritual baru yang disebut dengan “Istighotsah Akbar” ketika negeri ini didera dengan krisis moneter dan sejumlah musibah lainnya. Di sebagian tempat, ada di antara kaum muslimin yang ber-istighotsah (meminta pertolongan di kala susah) kepada Syaikh Abdul Qodir Jailani. Jelas ini adalah kebatilan dan kemusyrikan!!

Para pembaca yang budiman, istighotsah adalah salah satu diantara jenis-jenis doa, sedang doa adalah ibadah sebagaimana telah kami jelas dalam edisi-edisi lalu. Jika doa adalah ibadah, maka doa tak boleh dihadapkan dan dipersembahkan kepada selain Allah, sebab itu adalah kesyirikan. Bahkan doa hanya kepada Allah saja!!!

Jadi, meminta pertolongan kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani di kala susah adalah perbuatan kesyirikan yang diharamkan oleh Allah -Azza wa Jalla- dan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Seseorang jika mendapatkan kesusahan berupa penyakit, kemiskinan, kesempitan hidup, stress, trauma, ketakutan, paceklik, badai, musibah, kegagalan, dan lainnya, maka hendaknya ia berdoa kepada Allah yang menghilangkan segala kesusahan. Jangan berdoa kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan-kesusahan itu. Sebab makhluk lain juga sama lemahnya dan butuhnya kepada Allah. Karenanya, tak layak berdoa dan memohon pertolongan kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan dan musibah yang tak mampu ditangani oleh makhluk!!

Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus : 106-107)

Ahli Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, “Maknanya, bahwa Allah -Subhanahu-, Dia-lah Yang Memberi mudhorot dan manfaat. Jika Dia menurunkan pada hamba-Nya suatu mudhorot (musibah), maka tak ada seorang pun yang mampu menghilangkan (menolak) musibah, siapapun orangnya. Bahkan Dia (Allah)-lah yang khusus mampu menghilangkannya, sebagaimana halnya Dia yang secara khusus menurunkannya”. [Lihat Fathul Qodir Al-Jami' baina Fannai Ar-Riwayah wa Ad-Diroyah min At-Tafsir (3/412)]
Di dalam ayat itu Allah menerangkan bahwa seorang yang berdoa memohon pertolongan kepada makhluk, baik di kala susah atau senang adalah orang yang zalim. Orang yang memalingkan doanya kepada makhluk, berarti ia telah menempatkan doanya bukan pada tempatnya, yakni bukan pada Allah. Inilah yang disebut “zhalim”, sebab kezhaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Nah, jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saja berdoa kepada selain Allah bisa menjadi zhalim dan musyrik (walaupun itu tak mungkin terjadi), maka kita yang bukan nabi dan bukan pula rasul Allah lebih pantas takut dan waspada terhadap kesyirikan. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 182)]
Ini merupakan peringatan keras buat kiyai-kiyai dan ustadz yang biasa memimpin massa dalam ber-istighotsah kepada selain Allah -Azza wa Jalla- saat musibah dan kesempitan melanda umat. Makhluk yang kita tempati bermohon (semisal, Syaikh Abdul Qodir Jailani, Wali Songo, Nyi Roro Kidul, dan lainnya), maka mereka semua adalah makhluk yang lemah, tak mampu memberi rejeki, dan pertolongan. Jika kalian menyangka bahwa mereka mampu menolong kalian, memenuhi hajat kalian dan menolak bala dari kalian, maka ini adalah sangkaan batil dan kedustaan di hadapan Allah. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah, itu adalah berhala, dan kalian telah membuat kedustaan. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah, itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan”. (QS. Al-Ankabuut : 17) 

Mufassir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Al-Imad Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, “Kemudian Allah mengabarkan kepada mereka (kaum musyrikin) bahwa arca-arca mereka yang mereka sembah, dan juga berhala-berhala mereka, semuanya tak mampu memberi mudhorot dan manfaat. Kalian (musyrikin) hanya menciptakan nama-nama bagi mereka (sesembahan itu). Kalian menamai berhala dan arca-arca itu dengan “sesembahan”. Padahal mereka adalah makhluk seperti kalian. Demikianlah penafsiran yang dinukil oleh Al-Aufiy dari Ibnu Abbas. Penafsiran inilah juga yang dinyatakan oleh Mujahid, dan As-Suddi”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/269), tahqiq Sami Salamah]

Jika kita menginginkan rezki berupa kesehatan, kesembuhan, harta, makanan, tempat tinggal, kendaraan dan segala hajat kita, maka bermohonlah kepada Allah -Azza wa Jalla-, Sembahan dan Robb kalian yang mampu mengatur, memelihara, dan memenuhi segala hajat dan kemaslahatan para hamba-Nya. Janganlah meminta rezki kepada Nyi Roro Kidul, Wali Songo, Syaikh Abdul Qodir Jailaniy, Syaikh Yusuf Al-Makassari, tapi mintalah kepada Allah sebagai bentuk kesyukuran kita kepada-Nya!!!
Tak ada makhluk yang paling sesat jalannya dibandingkan orang yang memohon dan berdoa kepada makhluk yang tak memiliki daya dan upaya. Terlebih lagi jika yang diseru adalah mayat yang sudah terkapar dan termakan ulat dalam pusaranya.

Allah –Jalla wa Alaa’- berfirman,
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka”. (QS. Al-Ahqoof : 56)

Syaikh Isma’il Ibn Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy -rahimahullah- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin sungguh telah bodoh. Sungguh mereka berpaling dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui menuju kepada manusia-manusia yang tak mampu mendengarkan doa mereka. Jika manusia-manusia itu mampu mendengarkan doanya, maka mereka (manusia) itu tak mampu memenuhi doa mereka. Mereka itu tak mampu melakukan apa-apa. Jadi, dari situ tampaklah bahwa orang-orang yang beristighotsah (kepada selain Allah), dan menyangka bahwa diri mereka tak berbuat syirik. Karena mereka (yang ber-istighotsah) memang tak meminta kepada orang-orang mati agar hajatnya dipenuhi, mereka hanya memohon doa dari mereka. Jika mereka ini tak berbuat syirik dari sisi meminta dipenuhinya hajat mereka, maka sungguh mereka berbuat syirik dari sisi doa. Mereka menyangka bahwa manusia yang mereka sembah dapat mendengarkan seruan mereka dari jauh, sebagaimana mereka (sesembahan batil itu) mendengarkan seruan mereka dari dekat”. [Lihat Risalah At-Tauhid (hal. 72)]

Jadi, diantara manusia ada yang menyangka saat ber-istighotsah kepada “wali-wali” bahwa mereka tak meminta hajat kepada “wali-wali”, mereka hanya menjadikannya sebagai perantara. Dalam artian, mereka berdoa kepada “wali-wali” dengan harapan wali itu yang menyampaikan doanya (yang berisi permohonan hajat) kepada Allah.
Inilah kemusyrikan yang ada di zaman jahiliah; yang pernah dilakukan oleh bangsa Arab dan lainnya sebelum Islam datang dan tersebar. Kemusyrikan seperti masih terus berlanjut dan berulang dimana-mana, sampai di Indonesia pun ada dan tersebar!!!

Itulah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya saat mengingkari orang-orang yang mengangkat sesembahan sebagai perantara antara dirinya dengan Allah,
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil wali (sesembahan) selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka (wali-wali), melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (QS. Az-Zumar : 3)

Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan kesyirikan orang-orang jahiliah, “Inilah masalah bersar yang di dalamnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyelisihi mereka. Beliau datang membawa ikhlash (tauhid). Beliau mengabarkan kepada mereka bahwa itulah (yakni, tauhid) agama Allah yang Dia tak menerima dari seorang pun selainnya, dan bahwa barangsiapa yang melakukan kesyirikan yang mereka anggap baik, maka Allah mengharamkan surga baginya, sedang tempatnya adalah neraka” [Lihat Masa'il Al-Jahiliyyah (hal 37)]
Allah adalah satu-satunya sembahan kita. Dia-lah tempat kita meminta segala hajat dan pertolongan; Dia-lah yang menghilangkan segala marabahaya, kesusahan, serta Dia yang memberikan nikmat kepada kita, bukan makhluk yang memberi?! Dia yang menjadikan kita sebagai kholifah yang mengurusi dan mengarahkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa beribadah kepada-Nya.

Allah -Ta’ala- berfirman,
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. (QS. An-Naml : 62) 

Tak ada yang mampu menolak dan mengangkat musibah dari kita, selain Allah -Azza wa Jalla-. Lihatlah peristiwa Lapindo di Sidoarjo, dan Gunung Merapi di Yogyakarta. Tak ada yang mampu mengatasinya, selain Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk lemah, semisal Mbah Marijan!!! Perhatikan penyakit yang melanda manusia, tak akan hilang, kecuali Allah menghendakinya. Semua ini adalah fakta dan kenyataan yang menyadarkan kita bahwa tak ada yang menghilangkan musibah dan kesusahan, selain Allah!!

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Sumber : http://almakassari.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar