Sabtu, 15 Juni 2013

HAKEKAT YANG TERSEMBUNYI DARI SAYYID QUTHUB [1]

Oleh
Pustaka Al-Furqon Emirat
Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan pada sahabat, serta siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.
Wahai saudaraku yang mengidamkan jalan sunnah, serta keselamatan dari bid’ah-bid’ah dan hizbiyah (fanatik golongan). Inilah sebagian perkataan, yang dikumpulkan untuk anda, agar anda memiliki kejelasan sikap serta dasar ilmu dalam beragama, dan hendaklah anda berhati-hati agar tidak terjerumus dalam perang pemikiran yang penuh dengan dosa. Hal ini telah memenuhi buku-buku orang-orang yang dikenal sebagai para pemikir Islam, semisal Sayyid Quthub yang nisbatnya kepada kelompok Ikhwanul Muslimin.

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz telah berfatwa 2 tahun sebelum beliau wafat, bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh termasuk 72 golongan yang binasa, [2] sebagaimana yang telah ada dalam hadits perpecahan umat [3].
Para ulama sunnah yang terkemuka, sekelas Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh Shalih Al-Fauzan telah memperingatkan dengan keras atas penyimpangan Sayyid Quthub [4]

Berikut ini sebagian contoh kebid’ahan dan penyimpangan aqidah Sayyid Quthub, selamat mencermati:
MENAFSIRKAN KALAMULLAH (AL-QUR’AN) DENGAN MUSIK, IRAMA DAN NYANYIAN NASYID
1. Ketika menafsirkan surat An-Najm, Sayyid Quthub mengatakan : “Surat ini secara umum seperti not-not irama musik yang tinggi dan teratur, kata-katanya berirama, begitu juga kalimatnya berirama dan bersajak [5]
2. Dia mengatakan tentang tafsir surat An-Naazi’aat : “Allah sampaikan firman-Nya dalam bentuk nada musik”, kemudian Sayyid Quthub mengatakan : “Kemudian tenanglah irama musiknya” [6]
3. Dia berkomentar tentang surat Al-Aadiyah : “Irama musik di dalamnya terasa kuat menderum dan berdengung” [7]
4. Dia berkata : “Sesungguhnya Daud adalah seorang raja dan nabi. Dia mengkhususkan sebagian waktunya untuk mengurusi kerajaan, menyelesaikan persengketaan antar manusia, serta mengkhususkan sebagian waktunya untuk menyendiri, beribadah, melantunkan nasyid-nasyid untuk mensucikan Allah di dalam mihrob” [8]

DIA MENGATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK [9]
1. Ketika Sayyid Quthub berbicara tentang Al-Qur’an, dia mengatakan : “Mukjizat Al-Qur’an, seperti perkara segenap makhluk Allah, dan ini seperti penciptaan Allah atas segala sesuatu, serta karya manusia” [10]

2. Setelah Sayyid Quthub membicarakan huruf-huruf yang terputus didalam Al-Qur’an, dia berkomentar : “Akan tetapi, mereka tidak mampu mengarang kitab sebanding denganNya (Al-Qur’an), karena Al-Qur’an itu buatan Allah, bukan buatan manusia” [11]

3. Sayyid Quthub mengomentari surat “Shood” : “Huruf shood ini, Allah bersumpah denganNya, sebagaimana Allah bersumpah dengan Al-Qur’an yang banyak mengingatkan. Huruf ini adalah ciptaanNya, Dia-lah yang menjadikannya ada, dan menjadikannya berbentuk suara dalam tenggorokan” [12]

Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy rahimahullah membantah perkataan diatas : “Perkataan Sayyid Quthub, bahwa huruf “shood” ini adalah ciptaan Allah, dan Dia-lah yang menjadikannya, adalah perkataan Jahmiyah dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Adapun Ahlus Sunnah maka mereka berpendapat, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan (kepada Nabi-Nya), dan bukan makhluk” [13]

4. Sayyid Quthub juga mengatakan : “Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan suatu fenomena alam, seperti bumi dan langit” [14]

CELAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP NABI ALLAH, MUSA ALAIHIS SALAM
Sayyid Quthub berkata :”Marilah kita ambil Musa sebagai perumpamaan seorang pemimpin yang cepat naik pitam ..[15]
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah mengomentari perkataan ini : “Penghinaan kepada seorang nabi adalah suatu kemurtadan” [16]

CELAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP PARA SAHABAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
1. Sayyid Quthub mengatakan :”Kami condong untuk menilai, bahwa kekhalifahan Ali Radhiyallahu ‘anhu adalah kelanjutan dari kekhalifahan dua syaikh sebelumnya [17]. Adapun masa Utsman Radhiyallahu ‘anhu adalah kekosongan diantara dua masa tersebut” [18]
Kita mohon kepada Allah keselamatan

2. Sayyid Quthub mengatakan : “Sesungguhnya Mu’awiyah bersama temannya, yaitu Amr (bin ‘Ash), bisa mengalahkan Ali, bukan karena mereka lebih mengetahui tentang rahasia jiwa dan lebih berpengalaman dalam menentukan tindakan bermanfaat pada waktu yang tepat, akan tetapi keduanya sangat cepat dalam menggunakan semua senjata/cara. Adapun Ali terikat dengan budi pekertinya ketika memilih sarana untuk berselisih. Ketika Mua’wiyah dan temannya menggunakan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan suap serta money politik, maka Ali tdak sanggup untuk turun pada derajat serendah ini. Sehingga tidak perlu heran atas kesuksesan keduanya dan kegagalan Ali. Dan sungguh kegagalan (Ali) ini lebih mulia dari segala kesuksesan” [19]

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkomentar : “Ini perkataan yang jelek, ini perkataan yang jelek, celaan terhadap Mu’awiyah, celaan terhadap Amr bin Al-Ash”. Beliau juga berkomentar tentang buku-buku ini, dengan mengatakan :”Sudah sepantasnya, untuk dirobek-robek” [20]

3. Pengkafiran Sayyid Quthub terhadap sahabat Abu Sofyan Radhiyallahu ‘anhu.
Sayyid Quthb berkata : “Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang bertemu dengan Islam dan kaum muslimin, lembaran-lembaran sejarah mencatatnya, dan dia tidak masuk Islam kecuali telah nampak kemenangan Islam, sehingga Islamnya sebatas bibir dan lisan, bukan keimanan hati dan perasaan. Dan Islam tidaklah masuk kedalam hati lelaki tersebut” [21]

SAYYID QUTHUB BERPANDANGAN WIHDATUL WUJUD
Ketika menafsirkan surat Al-Ikhlas, Sayyid Quthub menyatakan :” Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya yang ada, tidak ada hakekat kecuali hekekatNya, tidak ada yang wujud secara hakiki kecuali wujudNya, setiap wujud yang ada pasti bersumber dari wujud yang hakiki tersebut, sedangkan hakekatnya bersandar pada zat hakiki tersebut. Maka dialah satu-satunya pelaku, secara asal selainNya tidak bisa melakukan sesuatu atau melakukan kepada yang lain di dunia nyata ini. Inilah aqidah didalam hati dan juga tafsiran atas segala yang ada” [22]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab pertanyaan tentang tafsir Fii Zhilalil Qur’an, diantara jawaban beliau : “Saya telah membaca penafsirannya terhadap suart Al-Ikhlas, dan sungguh dia (Sayyid Quthub) telah mengucapkan pendapat yang fatal, menyelisihi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena tafsirannya terhadap surat Al-Ikhlas merupakan wihdatul wujud, demikian juga ketika dia menafsirkan al-istiwa (bersemayam) dengan berkuasa” [23]

PENAFSIRAN SAYYID QUTHUB TERHADAP AL-ISTIWA (BERSEMAYAM) DENGAN BERKUASA
Ketika penafsiran Sayyid Quthub sampai pada surat Thoha ayat 5.
“Ar-Rohman (Allah) bersemayam diatas Arsy”, dia menyatakan : “Dialah Al-Muhaimin (yang berkuasa) atas segenap alam, bersemayam diatas Arsy, adalah kiasan tentang puncak pengaruh dan kekuasaanNya” [24]

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah mengomentari perkataan ini, seraya mengatakan : “Maknanya adalah pengingkaran kata bersemayam yang sudah dikenal, yaitu : tinggi diatas Arsy, dan ini adalah suatu kebatilan, yang menunjukkan bahwa Sayyid Quthub adalah seorang yang buruk lagi keliru dalam hal tafsir” [25]

MENSIFATI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DENGAN SIFAT MENOLEH[26]
Sayyid Quthub mengatakan :”Sesungguhnya Allah Yang Besar KemulianNya, Al-Aadhim, Al-Jabbar, Al-Qohhar, Al-Mutakkabir, Raja diraja atas segala sesuatu, sungguh bermurah hati dalam ketinggianNya, dan Dia menoleh kepada makhluk-makhluk, yang disebut insan (manusia) ini” [27]

SAYYID QUTHUB MENOLAK HADITS AHAD DALAM URUSAN AQIDAH
Sayyid Quthub berkata : “Dan hadits-hadits Ahad tidak bisa dipegangi dalam urusan aqidah, yang menjadi rujukan adalah Al-Qur’an” [28]

SAYYID QUTHUB MENGKAFIRKAN SEMUA MASYARAKAT ISLAM
1. Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya, sekarang ini tidak ada satu negara atau masyarakat muslim pun dimuka bumi, kaidah berinteraksi dengan mereka adalah dengan syari’at Allah dan fiqih Islam” [29]

Makna perkataannya, bahwa negeriAl-Haramaian (Saudi Arabia) yang telah menerapkan syari’at Allah, bukan Negara Islam !!
2. Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya kaum muslimin sekarang ini tidak berjihad ! hal itu dikarenakan kaum muslimin sekarang ini tidak ada …! Sesungguhnya permasalahan adanya Islam dan kaum muslimin adalah permasalahan yang perlu diobati sekarang ini” [30]

3. Sayyid Quthub berkata : “Sungguh, waktu terus berputar seperti ketika agama ini datang membawa kalimat Laa Ilaaha Illallah kepada manusia. Sungguh manusia telah murtad, beralih kepada peribadatan kepada para hamba dan kepada kedholiman berbagai agama, berpaling dari Laa Ilaaha Illallah, meskipun masih ada sekelompok orang yang memperdengarkan Laa Ilaaha Illallah dikala adzan …” [31]

4. Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya masyarakat jahiliyah yang kita hidup di dalamnya sekarang ini bukanlah masyarakat muslim” [32]

SAYYID QUTHUB MENYELISIHI PARA ULAMA DALAM MENAFSIRKAN MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH
1. Sayyid Quthub berkomentar tentang surat Al-Qashash pada firman Allah :
“Artinya : Dan dialah Allah, tiada sesembahan selain Dia” [Al-Qashash : 70]
Sayyid Quthub menyatakan : “Maka tidak ada sekutu bagiNya, dalam hal penciptaan dan memilih” [33]
Disini Sayyid Quthub menafsirkan kalimat tauhid dengan tauhid rububiyah (ketuhanan), dan dia meninggalkan maknanya yang utama yaitu tauhid uluhiyah (peribadatan).
2. Sayyidh Quthub berkata : “Sesungguhnya termasuk perkara yang pasti dalam agama, bahwa tidak mungkin tegak aqidah seseorang didalam hatinya, dan dalam kenyataan sebagai agama, kecuali menusia bersaksi Laa ilaaha illallah, yaitu tiada hakim kecuali Allah, kehakiman yang terwujud dalam bentuk syari’at dan perintahNya” [34]
Sayyidh Quthub menafsirkan kalimat tauhid dengan tauhid hakimiyah saja.

SAYYID QUTHUB MENJADIKAN INTI PERSELISIHAN PADA PERMASALAHAN RUBUBIYYAH[35]
Sayyid Quthub menyatakan tentang tafsir surat Huud :”Permasalahan uluhiyah (ibadah) bukanlah ini perselisihan (kita dengan kaum musyrikin) (!!!), sesungguhnya permasalahan rububiyah (ketuhanan)-lah yang dihadapi oleh para Rosul terdahulu (!!!) dan itu pula yang dihadapi oleh Rosul terakhir” [36]

ISLAM MENURUT SAYYID QUTHUB ADALAH PENCAMPURAN ANTARA NASHRANI DAN KOMUNIS
Sayyid Quthub menyatakan : “Haruslah Islam itu menjadi hakim, karena Islam merupakan satu-satunya aqidah yang positif dan tumbuh, yang dibentuk dari agama Nashrani dan Komunis hingga menjadi suatu campuran yang sempurna, mengandung semua tujuan kedua aliran tadi, serta memberikan tambahan atas keduanya, sehingga menjadi seimbang, cocok dan adil” [37]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengomentari perkataan ini dengan ucapan beliau : “Kita katakan kepadanya : Sesungguhnya agama Nashrani merupakan agama yang telah diganti-ganti dan dirubah-rubah oleh para ulama dan pendeta mereka, sedangkan Komunis adalah agama yang bathil (salah), tidak ada sumbernya dari agama-agamalangit. Adapun agama Islam,merupakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala diturunkan dariNya dan alhamdulillah tidak pernah diganti-ganti. Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al-Qur’an,dan Kami-lah yang akan menjaganya” [Al-Hijr : 9]

Siapa saja yang mengatakan bahwa Islam merupakan pencampuran dari agama ini dan itu, maka mungkin saja dia bodoh tentang Islam, atau dia terpukau dengan kehebatan orang-orang kafir dari kalangan Nashrani dan Komunis” [38]

SAYYID QUTHUB BERPENDAPAT BEBAS MEMILIH AQIDAH[39]
Sayyid Quthub mengatakan : “Itulah pemberontakan atas thogut kefanatikan agama. Hal itu terjadi sejak pengumuman kebebasan keyakian dalam bentuknya yang terbesar. Allah berfirman.
“Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) . Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” [Al-Baqarah : 256]

Allah juga berfirman.
“Artinya : Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memkasa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” [Yunus : 99]

Sungguh telah hancur berkeping-keping thogut fanatik agama, sehingga diganti dengan kebebasan (toleransi) yang mutlak, bahkan agar perlindungan kebebasan beraqidah (keyakinan) dan beribadah, menjadi suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang muslim terhadap para pemeluk agama lain, didalam negei Islam” [40]

Disampaikan suatu pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah : “Kami mendengar dan membaca istilah kebebasan berfikir”, hakekatnya adalah kebebasan berkeyakinan, maka apakah komentar anda terhadap istilah ini?”.
Beliau menjawab : “Komentar kami atas istilah tersebut, siapa saja yang membolehkan seorang manusia bebas berkeyakinan, meyakini sesukanya salah satu agama yang ada, maka dia kafir. Karena siapa saja yang meyakini bahwa ada orang yang boleh beragama selain dengan agama Muhammad Shallallahu ‘laihi wa sallam, maka sesungguhnya dia telah kafir, harus diminta bertaubat, jika bertaubat (alhamdulillah), dan jika tidak (mau bertaubat), maka wajib dibunuh” [41]

PENGHINAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP BUKU-BUKU SUNNAH SERTA MENSIFATINYA SEBAGAI KITAB KUNING.
Sayyid Quthub mengatakan : “Untuk menyingkap semua syubhat ini, cukup dengan pengetahuan yang benar tentang hakekat sejarah dan masyarakat Islam, yaitu : Hendaklah generasi penerus menimba peradaban yang hakiki dan cocok …. Bukan peradaban yang sulit seperti ini, sebagaimana digembar-gemborkan oleh kebanyakan orang, yaitu seperti gambaran yang ada di kitab-kitan kuning” [39]

PENGHINAAN SAYYID QUTHUB TERHADAP ULAMA SUNNAH SERTA MENSIFATINYA SEBAGAI AD-DARAWISY[40]
Sayyid Quthub mengatakan : “Ada lagi yang mengopinikan bahwa hukum Islam, bermakna hukum para Syaikh dan Ad-Darawisy. Darimana mereka mendapatkan pemahaman ini?” [41]

SOSIALISMENYA SAYYID QUTHUB
Sayyid Quthub mengatakan :”Bahwa, negaralah yang berkuasa untuk mengambil semua kekayaan dan hasil alam, kemudian dibagi dengan metode yang baru, meskipun kekayaan tersebut telah memiliki dan berkembang dengan dasar dan sarana yang dikenal dan disetujui oleh syari’at. Karena, mencegah keburukan atas masyarakat umum secara keseluruhan, atau berhati-hati dari keburukan yang mungkin menimpa masyarakat umum, lebih utama daripada memelihara hak-hak individu” [45]
Komentar saya : “Inilah hakekat sosialisme”.

SAYYID QUTHUB MENDIDIK UMAT UNTUK MELAKUKAN KUDETA DAN HURU HARA
1. Sayyid Quthub berkata : “Dan terakhir, muculnya pemberontakan melawan Utsman, yang haq dan bathil tercampur didalamnya, demikian pula antara kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, bagi orang yang memperhatikan berbagai permasalahan dengan mata Islam, dan merasakannya dengan perasaan Islam, pasti akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara umum merupakan kekuatan dari jiwa Islam” [46]
2. Sayyid Quthub berkata : “Dan mendirikan pemerintahan yang berdasarkan kaidah-kaidah Islam, dan menggantikan sistem pemerintahan yang lain dengannya… inilah yang urgen … yaitu mewujudkan kudeta Islami yang menyeluruh, tidak terbatas pada beberapa negeri saja. Bahkan inilah yang diinginkan Islam yaitu membangkitkan kudeta menyeluruh kesemua negeri. Inilah tujuan dan cita-cita yang tinggi yang sangat diinginkan oleh Islam, akan tetapi kesempatan belum dimiliki oleh kaum muslimin atau anggota partai Islam untuk memulai cita-cita ini dengan mewujudkan kudeta dan terus berjalan untuk meubah aturan-aturan hukum yang ada di negeri-negeri yang mereka huni” [47]
3. Sayyid Quthub berkata : “Harus diketahui berbagai motivasi yang melatarbelakangi perilaku manusia melalui sejarah kehidupan Islam ini, demikian juga hubungan antara motivasi-motivasi tersebut, dengan berbagai kejadian, perkembangan dan pemberontakan, lalu semua ini harus dihubungkan dengan tabiat aqidah Islam, yang didalamnya ada jiwa revolusi” [45]

Demikian tokoh Ikhwanul Muslimin memberi rekomendasi terhadap para pembunuh Utsman Radhiyallahu ‘anhu, dia juga memprovokasi berkobarnya fitnah dan pembunuhan di negeri-negeri Islam. Pendahulunya dalam hal ini adalah, mereka orang-orang Khawarij yang sesat, maka perkumpulan apa ini?!?

IBADAH MENURUT SAYYID QUTHUB, BUKAN TUGAS KEHIDUPAN
Sayyid Quthub berkata : “Islam adalah musuh pengangguran meski berkedok ibadah dan agama. Ibadah bukanlah tugas kehidupan, tidak ada ibadah kecuali pada waktunya yang telah ditentukan” [49]

PERSAKSIAN PARA PEMUKA KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN ATAS PEMIKIRAN SAYYID QUTHUB YANG MENYIMPANG
1. Dr Yusuf Al-Qardhawi (tokoh Ikhwanul Muslimin) mempersaksikan bahwa Sayyid Quthub berpandangan akan kafirnya berbagai masyarakat Islam, (terjemahan) teksnya : “Pada fase ini, mucul buku-buku Sayyid Quthub yang mewakili fase terakhir pemikiran tafkirnya, yang dengan cepat mengkafirkan masyarakat… serta pengumuman jihad penyerangan atas seluruh manusia” [50]
2. Farid Abdul Khalik (tokoh Ikhwanul Muslimin) berkata : “Sesungguuhnya pemikiran takfir tumbuh diantara para pemuda Ikhwanul Muslimin yang berada di penjara Al-Qanathir[51], pada akhir lima puluhan dan enam puluhan. Mereka itu terpengaruh oleh pemikiran dan tulisan Sayyid Quthub, sehingga mereka berkesimpulan bahwa masyarakat dalam keadaan jahiliyyah, para pemimpinnya telah kafir, karena mengingkari Allah sebagai Hakim Tunggal, buktinya mereka tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Dan rakyatnya kafir juga, jika meridhoi hal tersebut” [52]

Hati-hatilah wahai para pemuda dari pemikiran yang berbahaya ini (pemikiran tafkir dan peledakan), dan ingatlah selalu firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?” [An-Nisa : 109]

Wahai ahlut tauhid dan ahlus sunnah : bertaqwalah kepada Allah, tergakkan aqidah salaf, niscaya kalian akan beruntung, dan berhati-hatilah dari bid’ah-bid’ah dan para penyerunya.
Inilah contoh berbagai bid’ah dan kesesatan yang ada di buku-buku Sayyid Quthub, dan kelancangannya lebih banyak lagi dari apa yang bisa kami haturkan dengan cepat seperti ini. [53]
[Disalin dari Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah, diterjemahkan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc, Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo’dah 1427H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya]
________
Footnote
[1]. Dialihbashakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc dari bulletin terbitan Pustaka Al-Furqon Emirat, berjudul Shuwar Minal Ghozwil Fikri, Inhirofaat Sayyid Quthub Al-Aqodiyah
[2]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan di Neraka dan satu golongan di Surga ; yaitu Al-Jama’ah” [Hadits Riwayat Ahmad dan yang lain. Al-Hafidh menggolongkannya hadits Hasan], pent
[3]. Kaset Syarh Al-Muntaqo
[4]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub ,-pent), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh
[5]. Fii Zhilalil Qur’an (6/3404) cet. Ke-25 th 1417H
[6]. Idem (6/3811)
[7]. Idem (6/3957)
[8]. Idem (5/3018)
[9]. Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat akan kafirnya orang yang berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Jika para pengikut dan pengagum serta simpatisan Sayyid Quthb berpendapat bahwa Imam Ahmad mengkafirkan khalifah Al-Makmun yang menyatakan Al-Qur’an sebagai makhluk, padahal Imam Ahmad tidak mengkafirkannya karena dinilai masih bodoh dan memiliki syubhat, maka hendaklah mereka mengkafirkan idolanya terlebih dahulu, jika mereka merasa sebagai pengikut Ahlus Sunnah bukan pengikut ahlul bid’ah. Akan tetapi saya yakin, mereka tidak akan mengkafirkan idolanya, sehingga dari sinilah akan tersingkap topeng muka dua yang mereka kenakan, Alhamdulillah !!(pent).
[10]. Fii Zhilalil Qur’an (1/38)
[11]. Idem (5/2719)
[12]. Idem (5/3006)
[13]. Al-Maurid Az-Zullat Fit Tanbih Ala Akhthoi Tafsir Adh-Dhilaal, hal.180
[14]. Fii Zhilalil Qur’an (4/2328)
[15]. At-Tahwir Al-Fanny hal. 200
[16]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh.
[17]. Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma (-pent)
[18]. Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah hal. 206
[19]. Kutub wa Syakhsiyyat hal. 242
[20]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh
[21]. Majalah “Al-Muslimun” edisi 3 tahuun 1371H
[22]. Fii Zhilalil Al-Qur’an (6/4002)
[23] Majalah Ad-Dakwah edisi 1591 pada 9/1/1418H
[24]. Fii Zhilalil Qur’an (4/2328)
[25]. Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh
[26].Sifat-sifat Allah harus berdasarkan atas Al-Qur’an dan Al-Hadits, tidak boleh ditetapkan dengan akal, lihat pembahasannya di Al-Qowa’id Al-Mutsla karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.
[27]. Fii Zhilail Qur’an (6/3936)
[28]. Fii Zhilalil Qur’an (6/4008)
[29]. Idem (4/2122)
[30]. Idem (3/1634)
[31]. Idem (2/1057)
[32]. Idem (4/2009)
[33]. Idem (5/2707)
[34] Al-Adaalal Al-Ijtima’iyyah hal. 182
[35]. Padahal Allah berfirman : “Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu” [An-Nahl : 36] (-pent)
[36]. Fii Zhilalil Qur’an (4/1846)
[37]. Al-Ma’rokah hal. 61
[38]. Al-Awashim oleh Syaikh Dr Robi bin Hadi Al-Madkholy hafidhahullah hal.22
[39]. Inilah salah satu propaganda JIL dan kroni-kroninya, yaitu kebebasan beragma,-pent
[40]. Dirosah Islamiyyah hal. 12
[41]. Majmu Fatawa wa Rosail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Al-Utsaimin (3/99)
[42] .Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.64
[43] Para tokoh sufi yang mengenakan baju compang-camping, dari kain yang amat kasar, 9-pent)
[44]. Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.69
[45]. Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.39-40
[46]. Al-Adalaah Al-Ijtimaiyah hal. 160
[47]. Fii Zhilalil Qur’an (3/1415)
[48]. Al-Adalaah Al-Ijtimaiyah hal. 210
[49]. Ma’rokatul Islam war Ro’sumaliyah hal.52
[50]. Aulawiyatul Harokah Al-Islamiyyah hal.110
[51]. Penjara ini ada di Kairo, Mesir (-pent)
[52]. Al-Ikhwan Fii Mizanil Haq hal. 115
[53]. Inilah sekilas tulisan tentang pemikiran sang idola. Mungkin ada yang bertanya : Bukankah Sayyid Quthub telah wafat, kenapa kita mengungkit-ungkit kesalahan orang yang sudah meningal ?
Jawab : Kami angkat pembahasan ini, karena pemikirannya telah tersebar, bahkan buku-bukunya telah diterjemahkan serta dijadikan pegangan oleh banyak aktivis dakwah.
Mungkin juga ada yang menyanggah : Sayyid Quthub telah bertaubat dari pemikiran-pemikiran ini dan telah kembali kepada aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, jadi sekarang tidak ada yang mengikuti pemikiran ini.
Jawab : Pembelaan seperti ini justru merupakan bukti akan adanya orang-orang yang begitu mengagumi dan mengidolakan Sayyid Quthub. Kalaupun dia telah bertaubat, alhamdulillah, akan tetapi kenapa buku-buku yang menyimpang tersebut tetap dicetak berulang-ulang, bahkan didukung oleh adiknya sendiri yaitu Muhammad Quthub. Jadi apabila buku-buku tersebut telah ditarik dari peredaran, maka mungkin kritikan akan berhenti, akan tetapi jika tidak, maka jangan berharap para dokter akan diam jika melihat penyakit merajalela, -pent

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar