Selasa, 21 Mei 2013

Penjelasan Hadits Ghadir Khum

Hadits Ghadir Khum yang Shahih Menurut Ahlissunnah:
حديث الغدير :
والحديث أصله في صحيح مسلم من حديث زيد بن أرقم – رضي الله عنه – أنه قال :” قام رسول الله صلى الله عليه واله وسلم يوما فينا خطيبا بماء يدعى خما بين مكة والمدينة فحمد الله وأثنى عليه و وعظ وذكر ثم قال : أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربى فأجيب وأنا تارك فيكم ثقلين : أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به )فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال(وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي ” .
وجاء في بعض طرق الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم أمر بالصلاة فأخذ بيد علي – رضي الله عنه – فقال :” ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ قالوا : بلى . قال ألست أولى بكل مؤمن من نفسه قالوا : بلى قال : فهذا ولي من أنا مولاه ، اللهم وال من والاه ، اللهم عاد من عاداه ” .
وفي رواية ” من كنت مولاه فعلي مولاه “
masalah berdalil dengan hadits Ghadir khum maka ada banyak bantahannya


a.      tidak ada dalam hadits ghadir isyarat sekecil apapun bahwa Nabi mengangkat Ali atau lainnya dari ahlil bait sebagai Khalifah atau imam. Sebab wurud hadits adalah karena ada beberapa orang yang berbicara menggunjing sahabat Ali radhiyallahu a’nhu karena telah melarang mereka untuk menggunakan onta zakat dan meminta mereka mengembalikan perhiasan-perhiasan yang dilepaskan untuk mereka oleh wakilnya. Maka ketika nabi saw pulang dari haji di tempat yang namanya Ghadir Khum beliau berkhutbah membersihkan nama Ali dan meninggikan kedudukannya di sisinya agar hilang apa yang ada di hati banyak orang.
b.     tidak ada seorang sahabat pun yang memahami dari hadits ini bahwa Ali ditunjuk menjadi khalifah, tidak secara tersurat maupun tersirat. Oleh karena itu saat mereka berkumpul di SAQIFAH BANI SAIDAH (waktu membaiat Khalifah Abu Bakar assiddiq ra) tidak ada seporang pun yang berhujjah dengan hadits ini, karena memang para sahabat ra memahami bahwa al-maula yang ada hadits ini adalah untuk kecintaan dan kesetiaan. Bukan untuk imamah dan imarah. Bahkan Ali ra sendiri mengingkari orang yang memanggilnya dengan ya mawlana. Seandainya beliau memahami bahwa kata mawlana sinonim dari ya amirana ya imamana tentu beliau tidak mengingkari mereka.
c.     antara peristiwa Ghadir dan wafat Nabi saw kira-kira hanya 70 hari, ini dengan ijma’nya orang syiah sebab mereka mengatakan bahwa peristiwa itu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10. berdasarkan kesepakatan bahwa wafatnya Rasul tanggal 28 shafar tahun 11, jadi jaraknya hanya 70 hari. Apakah masuk akal jika seluruh sahabat dalam waktu yang singkat ini melupakan hadits ini?!!. Bagaimana mungkin 100 ribu sahabat itu- seperti yang diyakini syiah- setelah 70 hari saja melupakan baiat yang telah mereka lakukan bersama nabi mereka?!! Sungguh tidak ada duanya kejadian seperti ini dalam sejarah manusia!!!
Maka jika faktor untuk mengutip hadits itu ada dan penghalang dari itu tidak ada, tetapi tetap hadits itu tidak muncul maka ini menunjukkan kalau nash itu benar-benar tidak ada!!!
d.     kata mawla menurut ibnul atsir bisa berarti:
الرب والمالك والمنعم والناصر والمحب والحليف والعبد والمعتق وابن العم والصهر
“Tuhan, Yang Memiliki, Yang memberi nikmat, penolong, mencintai, sekutu, hamba/budak, orang yang memerdekakan budak, saudara sepupu, dan menantu.”
Kalau nabi saw ingin mengangkatnya menjadi khalifah tentu tidak menggunakan istilah yang mengandung banyak makna, lebih utama kalau nabi yang sangat fashih dan nashih itu mengatakan: “Khalifah adalah Ali”.
e.      yang dimaksud dengan “Man kuntu mawlahu fa aliyy mawlahu” adalah kecintaan dan kesetiaan serta wasiat untuk berbuat baik kepada ahlul bait, dan menjelaskan tingginya kedudukan ahlul bait. Tidak ada dalam redaksi maupun mafhumnya bahwa Ali adalah imam atau khalifah!
f.       seandainya Nabi saw menginginkan awla tentu tidak akan mengatakan mawla akan tetapi akan mengatakan awla. Kalau kita mengalah bahwa maksud dari mawla adalah awla niscaya maksudnya adalah bukan wilayah, hukum dan kepemimpinan mengatur urusan kaum muslimin, karena Allah telah berfirman:
{ إن أولى الناس بإبراهيم للذين اتبعوه وهذا النبي والذين آمنوا والله ولي المؤمنين }
Maka apakah para pengikut Nabi Ibrahim menjadi pemimpin atas Nabi Ibrahim? Atau apakah para pengikut Ibrahim menjadi pemimpin semua?
g.     sebagian ulama syiah sendiri menolak jika hadits Ghadir khum diartikan sebagai pernyataan atas imamah Ali setelah Rasulullah saw. An-Nuri al-Thubrusi berkata:
:” لم يصرح النبي لعلي بالخلافة بعده بلا فصل في يوم الغدير وأشار إليها بكلام مجمل مشترك بين معان يحتاج في تعيين ما هو 
  المقصود منها إلى قرائن
h.     adapun riwayat dengan lafazh “wa huwa waliyyukum min ba’di” maka telah didhaifkan oleh para pakar hadits. Ia datang dari 2 jalur, dalam sanadnya ada ja’far ibn Sulaiman dan Ajlaj al-Kindiy yang sangat lemah.
Adapun tambahan min ba’di maka kata al-Mubarakfuri adalah tambahan dari dua perawi syiah tadi. Kbeliau berkata:
:” والظاهر أن زيادة ( بعدي ) في هذا الحديث من وهم هذين الشيعيين جعفر بن سليمان والأجلح ويؤيده أن الإمام أحمد روى في مسنده هذا الحديث من عدة طرق ليست في واحدة منها هذه الزيادة
i.        meskipun kita anggap benar misalnya maka hadits ini bertentangan dengan keyakinan orangh syiah sebab mereka meyakini keimamahan Ali semenjak Nabi masih hidup berdasarkan ayat
{ إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا الذين يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة وهم راكعون
Lalu bagaimana ada tambahan “min ba’di?!”
(AH) 9 R. Akhir 1431 H/ 25 Maret 2010
Sumber : http://old.gensyiah.com/hadits-ghadir-khum-yang-shahih-menurut-ahlissunnah.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar